Pages

Selasa, 11 Juni 2013

Beberapa perkataan orang-orang hebat ini saya kutip dari buku yang berjudul  PERUSAHAAN YANG MENGUBAH DUNIA karya Jonathan Mantle yang diterbitkan oleh Esensi.

1. Seorang kawan lama ayah menghadiahi saya pedang yang dipotong dan ditempa dengan indah, membuat saya berhasrat memenggal puluhan kepala orang kaya dengan pedang ini. Demikianlah saya sebagai nabob kembali ke Inggris.
-William Hickey, dalam catatan hariannya, pergi ke Kalkuta sebagai kadet perusahaan pada 1769.

2. Belum pernah ada negara yang berdagang sedemikian banyak dan mengonsumsi begitu sedikit: Mereka membeli dalam jumlah tak terbatas, tapi untuk dijual kembali, bertumpu pada kemajuan komoditas atau pasar yang lebih bagus.
-Sir William Temple, diplomat Inggris, mengomentari getaran komersial Belanda pada abad ke-17.

3. Hal yang lebih baik untuk kehidupan yang lebih baik melalui kimia.
-Slogan DuPont 1939

4. Anda bisa menghasilkan uang tanpa berbuat jahat.
-Filsafat perusahaan Google

Read more...

Kumpulan Puisi


AKU INGIN KEMBALI
Karya : Cucu Abdul karim
Kau tau sayang
Aku ini seperti jeruji-jeruji besi yang malang
Yang terus mendekap seluruh lapisan narapidana
Begitu juga jasad yang meneguk arak dalam pergaulanya
Menghisap darah pembunuhannya
Memakan daging keberutalanya
Masihkah engkau menyayangiku ?
Setelah melihat santapan kehidupan ini
Ataukah aku harus meninggalkanmu-
Agar engkau takkecewa dihujung pilu
Wahai cinntaku
Tolong buka mata hatimu, sadarlah dari ambisi nafsu
Tolong buka akal sehatmu dan berpikirlah aku bukan harapanmu
Aku mohon redupkan pilihan dari aarah maksiyat
Apabila engkau takmampuh
Maka sadarkan aku dalam tasbih surgamu
Terangi hatiku dengan batin ikhlasmu
Selimuti aku dengan kain sutra imanmu
Bawa aku pada jalan hamba tuhan yang agung

IMAN DAN TEKAD
Karya : Cucu Abdul karim
Aku terlalu pagi menyantap mentari
Aku terlalu malam kembali ppulang
Sesekali aku ingin todir lebih awal, tetapi aku tak bisa
Sesekali ingin bangun seperti seseorang pemalas,-
Tetapi aku tak bisa
Bahkan berniat meninggalkan semuanya, aku tak mampuh
Aku takut kalian kecewa terhadap laon yang diperankan
Aku tak mau dosa semakin menumpuk –
atas amanah yang diabaikan
mungkin tuhan akan kecewa atas rido kalian yang ku abaikan
meski begitu,
Aku adalah santri yang menyimpan rohani dalam diri
Meski begitu,
aku adalah mahasiswa yang menimpan imajinasi dalam otaknya
kini amanatmu telah kusarati
peraturanmu telah ku taati
hamba santri diri mahasiswa sejati
yang mengukir pagi demi tekad suci
yang menyapa petang merintih dosa dalam serpihan air mata
ini hati imanku dan ini pikitan tekadku

BUKANYA AKU TAK CINTA CAYANG
Karya : Cucu Abdul karim
Kau ingin aku membelaimu
Kau ingin aku memelukmu
Kau ingin aku mengcup kening dan lisanmu
Dengarlah sayang
Aku bukan mereka yang melarang orang lain menyentuh - kekasihnya, tetapi mereka merusaknya
Bukannya tak mau membelai, memeluk,-
menecup, dan menyalurkan hasratku
tetapi maapkan aku sayang
ini sanjung yang takharus membalaimu
ini kehangatan yang tak harus memelukmu
Ini senyun tang takharus menecupmu
Tetapi ini cinta bukan nafsu
Ini cita dan kasihsayang yang hanya kucurahkan untuknu,
tetapi takan kusajikan dalam sesosok nafsu
ini cinta yang takmau berdolim atas cintanya
ini kasih yang takan mencurahkan hasrat sebelim waktunya

TERLALU LETIH
Karya : Cucu Abdul karim
Ini pesan yang harus kusampaikan pada ayah dan ibu
Ibu, aku terlalu lemah untuk meraih dua mimpi sekaligus
Aku terlalu letih menjalani dua harapan yang disandarkan
Sehingga kakiku terasa kaku saat melangkah berulang-ulang - menggapai mimpi
Ayah, saat dua harapan yang disajikan
Yakmungkin  semuanya bisa digapai semaksimal mungkin
Pastilah ada salahsatunya yang diunggulkan
Meski memang ada sebagian yang dapat meraihnya
Tetapi aku bukan orang istimewa yang bisa merangkul dua mimpi secara bersamaan
Badan ini terlalu lesu, hati ini terlalu rapuh, semangat ini terlalu mudah pudar dan napsu ini terlalu kuat mengendalikanku
Maka bila dijorongkan pena dan kertas, takmungkinlah aku dapat menulis kembali, meski hanya suntai kata
Keletihan ini terlalu kuat melelapkan semangat perjalanan
Rasanya aku ingin terus lelap dalam tidurku -
dan takmau ku bangun kembali
aku sudah tak kuat menyaksikan perjalanan hidupku sendiri

SEMUA JEJAK PENA
Karya : Cucu Abdul karim
Aku menangis pada pelangi cita-cita yang begitu indah bila diresapi dengan keikhlasan
Seiring deruh suara kawan menghibur lara dalam jeruji-jeruji aral
Sapaan mereka yang sopan menambah kesal sunyi yang bersamanya dalam ruang batin diri
Apalagi mereka membantak telah memancing emosi terpendam yang terlalu lama tertahankan
Teringat ibarat sunda berkata : napsu kapegung, iga ngahalang, amek kakurung kakusing
Bila ditafsir para remaja itu galau, tapi aku tidak galau
Bilang orang tua itugundah gulana, tapi tak ada yang kuhawatirkan
Terus apa namanya ini kalau bukan galau dan gundah gulana ?
Ternyata keinginan yang tak bisa diungkapkan,
Unek-unek hati yang takmampu diucapkan
Dan akhirnya membusuk dalam cengkraman kepusingan
Aral rasanya memijakan kaki karna terpaksa
Kini takmampu aku ungkapkan semua keinginan ini
Karena napsu kapegung yang teerus memaksa tangan untuk menggoreskan kemarahannya
Dan inilah aku yang sekarang
Akulah raga yang menaruh mimpi pada jejak pena
Akulah hati yang mengukir cinta pada jejak pena
Akulah rasa yang menuangkan bahagia pada jejak pena
Akulah perih yang melukiskan luka pada jejak pena
Akulah kesal yang menaruh muak pada jejak pena
Akulah benci yang menaruh dendam pada jejak pena
Akulah segala pusat harapan yang menjadikan jejak pena sebagai tempat suka dukanya
Akulah pemimpi sempurnya yang mencurahkan semuanya pada jejak pena
Meski ketergantungan pada jejak pena
Hendaknya mereka tahu aku punya keinginan yang pasti alasannya dan pesan untuk disampaikan
Jangan pernah hentikan yadaen untuk mendirikan dan menggoyangkan pena
Saat senang, bahkan ketika tak ada lagi tempat menyandarkan napas kata dari nyawanya
Tetaplah hati merangkul mimpi dunia sejaga
Dalam engkoding corak kehidupan
Meski pimplan menelan harapan
PUDAR
Karya : Cucu Abdul karim
Sampai kapan keinginan ini terkurung dalam kegundahan
Memendam mimpi dalam sepi suara hati
Bila berkata menelan rasa
Bahkan terdiam mengiris hati
Bunda, kaki ini terlau kaku memijakan harapan
Tangan ini tak bernapsu memegang semangat
Dan takdapat lagi terbang tinggi dalam mimpi
Karna saya-sayap semangat telah rontok
Kini angin menghembus seolah-olah menyapa
Tetapi maapkanlah
Karena sir ini taklagi melayang dalam lautan harapan
Namun bilananti sayap ini tumbuh kembali
Kanku sampaikan kabar gembira disetiap helai surge

MERINDUKAN SANTRI
Karya : Cucu Abdul karim
Kaepa haluka ya santri ?
Raga tak tau mengapa hati bersiul merdu
Merindukan santri disenja sepi
Ingin menyapa meluap tanya ?
Masihkah lisan menghembus kalan, ditengah gelapnya lail,- Menghapal syair-syair yakulu dalam dengung suara merdumu
Menyandar badan dirongga lirboyo, Memegang serpih-serpih kertas taman badi’ah
Bahkan duduk selesehan mendekap betis terkurung sarung,- Mengengut ro’si mengucap nada-nada surge
Ataukah membisingkan ruang dengan hapalan alpiah, dibibir masuk helai pintu lirboyo
Kola muhammadun huabnu maliki
Ahmadurobilah ha khoro maloki
Musolian ala nabiyil mustopa
Waalihil mustakmilinna saropa
Inilah syair dengung merdu awal sapa karya ibnu malik
Bersama kalbu menggetarkan tasbih diawal pagi yang gelap gulita
Bertekuk lutut rendahkan badan, Mengaku dosa dalam serpihan air mata
Aku menuggumu dalam ruang batas waktu
Aku menunggu sapa dakwahmu ditengah nada-nada bumi yang sumbang
Aku merindukan santri sejati
Menumpas bumi hamparkan suci

KAMI TERTIPU
Karya : Cucu Abdul karim
Disepanjang jalan
Kulihat wajah-wajah sunyi menaruh mimpi
Berharap sesekali sarat janji
Tetapi hany atipuan penuh kepalsuan
Yang ditunjukan penuh kepercayaan
Dulu kau baersyair harapan
Kami dengar suara amanah dibntangkan
Kami pandang sepanduk meyakinkan dihujung sepi
Kami yakin itu bukan bualan
Menggores yakin kau harapan
Data telah tersimpul kau manusia terpilih
Duduk sanding singgasana jabatan
Sejenak bernapas ingkari janji
Menjilat kembali liur yang kau ludahkan
Kami tertipu bustam harapan
Terlena bualan setan bungkelekan
Pandang kami ditepi mimpi
Kami tekpernah meminta jaminan dan
takpernah meminta balasan
Tapi kami berharap syarat janji
Berharap sidik jadi peribadai

SARAN BUAT PERJAKA
Karya : Cucu Abdul karim
Diri perjaka
Tokoh utama dalam sandiwara
Bermain kata dalam ucap indahnya
Membelai rasa sentuhkan birahi
Meluap kata penuh duka
Itu pujaan hanya warna rasa
Telengkan suka dalam sepotong hampa
Ini hati penikmat warna
Tinggalkan tangis dihujung kata romantika telah tiada
Wahai perjaka rasa
Dengarkanlah suara sapa kawan
Bila sika hanya sementara
Maka alurkan bahagia disetiap rongga dada para hawa
Bila puja hanya seutai kata
Maka sampaikanlah penuh bahagia
Dan bila rasa tak sebada, Jangan dampaikan duka dalam dada
Karna hawa bukan hiasan semata
Mereka rasa harus dijaga
Penitipp hati bual berjanji
Diupuk hayat merajut setia
TULAB
Karya : Cucu Abdul karim
Ya Tulab
Masihkah engkau bersiul ilmu
Mengucap tasbih merasuk hati
Membuka setiap lembar surga
Menerawang indahnya kata
Ya Tulab
Sudahkah kata memandang warna,-
Membeda duka bersama bahagia
Sudahkah lisan menghapal kalam,-
Mengucap syair-syair ilahi
Sudahkah teelinga merasukan surga,-
Menyimak seksama indahnya agama
Sudahkah tangan meraba kasih, -
Menolong hamba-hamba pengasih
Sudahkah hati rujukan iman, memilih islam sebagai suntikan kehidupan
Maka jika itu kau perbuat
Tatapkan mata pada haknya
Ucapkan lisan pada tasbihnya
Telengkan telinga pada siulan surga
Rarabakan tangan lambaikan harapan
Sembuhkan hati memuji ilahi

TAK SEMPURNA
Karya : Cucu Abdul karim
Ketika mata menaruh pedih
Membeda haru melayap rindu
Mengalir sunyi hantarkan sepi
Meneteskan napsu uraikan empedi
Kelopak meratap sunyikan senja
Saat pilihan hati tinggalkan hampa
Menebar duka didasar rasa
Tinggalkan empedu saut mengadu
Ucapkan salam lepaskan janji
Merubah warna sekejap nada
Terdenagar senandung redupkan syair
Membuka hati lemparkan dinda
Menutup kalbu masukan dia
Gores teerpojok menyingkir raga
Taklayak guna diakhir bosan
Pujaan lama telah kadaluarsa
Beta terganti pujaan lain
Beta tidak sempurna buat adinda

NADA YANG REDUP
Karya : Cucu Abdul karim
Selembir cinta tak lagi merdu
Saat nada-nada kasih telah sumbang
Karna senar-senar setia telah putus
Terbinggung jari kemana memetik sanjung
Menyatukan indahnya syair dengan musik
Memadu lembutnya kata surga merasuk telinga
Wahai gitaris, cepatlah ganti senar rasamu
Sebelum hati menaruh sunyi
Nyanyikan duru merujuk hati
Mengubah kunci pilihan dengan pukulan dram
Memukulkan setick penghianatan mengerung kencang
Engkau kekasih yang hilang
Tinggalkan kenangan memupuk rindu
Ucapkan salam pisahkan warna
Senar hati tidak pernah merdu
Senar hati ini telah putus
Takdapat disambung harus diganti
Dengan senar hati yang lain

DEWI
Karya : Cucu Abdul karim
Masihkah engkau menunggu sang dewi
Datang menghampiri redupkan sepi
Memijakan kaki diatas denyut hati
Meski dewi terus bernyanyi
Tak pernah sudu membagi hati
Membelah jiwa separuh raga
Mengiris kasih lautan sejaga
Menutup pintu masukan rindu dikalbu
Dia sengdewi ratu pujaan
Merontah hati bisikan rasa
Engkau dewi pujaan raga semata
Dengarkanlah setiap makna detak jantung ini
Berdenyut kalbu detakan dambaan
Ismi Dewi ismi Dewi ismi Dewi
Bersihkeraskah dewi campakan rasa
Yang telah menyatu tiada ada beda
Telah menggumpal memadu satu
Rasa dan hati ini takan terhenti
Memuja dewi sandaran hati

MERINDUKAN PAGI
Karya : Cucu Abdul karim
Wahai pagi,
Akankah esik engkau menanti
Menyapa hantarkan kesejukan
Membawa embun pelengkap aroma
Menggugah rasa alurkan semangat
Merambat cahaya terangi jalan
Membawa siuran uspur menggelik
Mengawali ocehan bocah-bocah ingusan
Memanggil para wanita keluar ucapkan kata
Wahai pagi
Seakan dirimu sesosok sugesti
Menyuruh ibu menanak nasi
Memerintah ayah menggali nafkah
Bahkan memeksa raga untuk meraih segala
Ironisnya pengaruh pagi memaksa semua berraktipitas
Menyalakan mesin-mesin kehidupan
Engkau kedati perjalanan ekonomi
Wahai pagi dengarkan teriakan hati ini
Masihkah esok hari engkau memaksa mentari
Terus menyapa seluruh hamparan duniyawi
Memulai aktivitas bersama pagi
Kini kehawatiran terus menjadi-jadi
Engkau teerhenti dan bila terjadi
Kehidupan akan mati
Saat pagi tak menyapa
Saat pagi telan semangat
Hingga engkau hentikan kehidpan
Tamatnya peradaban
Pagi aku menunggumu dan aku menunggu esok harimu
MENGUNGKAP JAWABAN NURANI
Karya : Cucu Abdul karim
Mungkinkah hatiku akan tersentuh
Tumbuhkan rasa manusiamu
Apakah kata yang kan kau ucapkan
Saat ia menghampiri mengadu kehidupannya
Yang hanya ia persembahkan
Raut harapan ia sajikan bersama ratapkan takdirnya
Tangankah yang kau ulurkan ?
Satu kata maaf yang kau lontarkan ?
Hanya senyuman yang kau ikhlaskan ?
Bisa jadi kau memarahi, bahkan mencaci
Kata jiji, jorok mungkin akan terucap bila napsu menyelimuti
Bahkan kau takmenghiraukan
Sungguh penuh keiroisan
Nada nurani kau tegaskan
Tataplah mereka dengan penuh kasihsayang
Saat nadi berdenyut, jantung berdetak
Mata durjana ini hanya bisa menetekan kepiluan
Tak kuasa menyaksikan santapan pandangan
Hidup ini bukan salah mereka
Nasib ini bukan aturan yang bisa diubah
Namun takdir tak memandang kasihan
Aku, kamu, dia, mereka tak jadi alasan takdir
Semua berjalan sesuai porsi kehidupan

SUARA HATI UNTUK RATU
Karya : Cucu Abdul karim
Ku ketuk siggasana ratu
Terlontar salam dihelai pintu
Berharap sapaan sapaan kerinduan
Menunggu bisikan ijinkan masuk
Namun penentian tiada balasan
Hening terniang sepi berbaring dalam suasana
Terungkap tanya diamana nada yang kurindukan ?
Memaksa masuk lipatkan sepatu
Tertatap ratu berbaring diatas hampar kayu
Menutup warna mata redupkan lesu
Terlihat rongga menggenggam nyawa
Hembuskan lelah disetiap napasnya
Raga ini letih tak tertahankan
Saat bola pandangan menyaksikan
Kulit yang keriput terus dibentangkan
Melawan mentari yang menyengat pori-pori
Kaki yang pecah sajikan perjuangan
Keringat yang tumpah menaruh tasbih pengorbanan
Kini hati terus memaki diri
Saat berpoya diatas keringatnya
Tersadar sesal hantarkan haru
Perjuanganmu mendidik dinda
Kasihsayangmu ungkapakn surga
Ratu terbangun dari lelapnya
Bergerak kilat memeluk raga
Sampaikan rindu menanti dinda
Ucapkan harapan yang dilontarkan
Suahkah engkau berenang dalam lautan ilmu
Sudahkah engkau bermain pasir butiran ilmu
Sudahkah engkau meneguk segarnya ilmu
Dan apabila sajian yang akan dipersembahkan
Ataukah engkau hanya membawa debu-debu lesu yang didapatkan
Bahkan penysalan yang disajikan
Ratu merindukan buah perjuangan yang kusandarkan dalam hamparan pendidikan
Ratu dengarkan detak suaraku
Merontah langit menggali bumi
Menggurung napsu membongkar masadepan
Ini selembar harapan yang kusajikan, penuh kecupan perjuangan
Tiap kecupan menaruh beribu keindahan
Yangkan tumbuh bersama hati para sastrawan
Yangku ukirkan disetiap lembaran

IMPIAN PALSU
Karya : Cucu Abdul karim
Jelajah dunia sunyi
Mendesah alunan kehidupan
Pagi menyinari seja menyapa
Malam terniang hilang tanpa pandang
Ilusi kehidupan yang membayang
Gambaran masadepan yang teriang
Menjanjikan sebuah kehidupan
Pendidikan yang terpandang
Kini telah sayup
Dunia pudar meroboh harapan
Wahai engkau sarjana muda
Yang menaruh harapan dalam sepotong senja kehidupan
Memanjakan harapan dalam seuntai corak yang berbaris diatas kertas
Dasi yang menempel didada, seakan dunia takluk akan busana
Kini tak lagi ada harganya
Tinta ini melambaikan harapan
Tulisan ini menggoreskan masadepan
Namun kenapa pengangguran jadi akhirnya
Kepiluan menjadi kehidupan
Begitu sempitkah ruang waktu ini
Begitu cepatnya alur kehidupan
Mereka hanya bisa menangis, bersedih, pilu bersama alunan kehidupan
Akankah ini akhir sebuah kehidupan
Mungkinkah ini cita-cita palsu ?

PERDANA PANGGUNG TT3
Karya : Cucu Abdul karim
Jerih keringat yang gigih terus dikumandangkan
Jejak semangat terus dipijakan oleh sangkawan diatas kesiapan
Lelah yang terus menyandar dalam diri, -
Takan sayupkan gairah keberhasilan
Meski terkadang beda kata beda pikiran terus diperbincangkan
Sempat sayup serasa raut risau keinginan takkan tersampaikan
Walau rintang takkunjung padam menerjang jiwa-jiwa berani pementasan
Iringan kebersamaan terus disanjung pada jiwa sempat redup
Mengharap tumbuh puncak jempol para penikmat
Aku kagum pada langit mala ini yang terus merintihkan tangis tasbihnya
Tetapi aku lebih bangga pada langit yang tersenyum dalam gelap taburan bintang
Kami ta’kan pernah kalah dengan persetruan langit dan bumi yang saling menyingsingkan panas dan hujan
Kami akan terus berjuang dalam panggung pementasan
Hingga tepuk yang ramai terus diiring tangan-tangan kagum
Aku bangga pada sahabat Teater Tangtu Tilu

BAGAI MANA MASADEPANKU
Karya : Cucu Abdul karim
Mendang dalam lautan kehidupan
Terpaku ditengah harapan
Bermimpi hingga ditepi angan-angan
Oh masadepan
Raga ini ragu akan takdirnya
Jiwa ini rapuh bersama alunan kehidupan
Aku yang merenung dalam keraguan
Dinda yang terjebak dalam nestapa masaepan
Taktahu arah jalan kesuksesan
Terus berelok-elok dalam detak kehidupan
Berangan-angan semua berakhir dengan mudahnya
Namun ini takmungkin terwujud
Tanpa jerih payah dan pengorbanan
Mari berlayar menerjang ombak rintangan
Terus mendayung menuju tepi harapan
Hingga akhirnya kau dapatkan keindahan
Kesuksesan menuggu kau menghampirinya
Dia menjanjikan beribu-ribu impian yang engkau dambakan
Namun itu takmudah kau dapatkan
Tanpa desah perjuangan dan pengorbanan
INDAH KARENA NESTAPA
Karya : Cucu Abdul karim
Terkadang orang memandang sebelah mata
Meremehkan jalan nasib pujangga hina
Mencaci penyair tanpa kira
Cacian, hinaan , keterpojokan menjadi dantapan sukses bagi diri
Bagiku ...
Bibirmu begitu indah menggoreskan luka
Sikapmu begitu lembut memojokan pujangga
Memandang hina kehidupannya
Seakan sekali sampah tetap sampah
Kami tegaskan satu hentakankehidupan
Kesombongan, cacian, hinaan, keterpojokan telah membuatnya bahagia
Mungkin kalian terus bertanya
Kok bisa ? padahal kan ? oh no...
Aku pujangga yang lahir karena suasana memojokannya
Aku datang karena cacian terus menghampirinya
Aku berkarya karena dusta telah banyak menipunya
Jakan kau kira aku tak dapat berkarya dengan nestapa
Dunia hanya semata hilang dengan sekejap saja
Meski goresan kata terus tersimpan
Dan tumbuh bersama pemikiran senimanya
Luka ini kan kusimpan dengna nyaman
Terimakasih atas pahitnya kehidupan

ORANG TUAKU BUKAN NESTAPA
Karya : Cucu Abdul karim
Kehidupan ini begitu menawan
Dunyawi ini terus menjanjikan
Namun aku tak sadar
Ragamu sungguh teraniyaya
Jiwamu begituh tersiksa
Napasmu penuh batasan kehidupan
Kalian begitu menderita dinda takkuasa
Dirimu pilu dinda tak tahu
Mereka menerkam suasana dinda tak dapat menghalanginya
Semua menyangka kalian nestapanya
Mereka tumpahkan derita pada tabah milik kalian
Taksadar karna nafsu dan benci yang menjalarnya
Aku tak kuasa meratapinya
Lensa terus bertetes memikul pandangan
Hati merintih menyaksi rasanya
Aku ingin ungkap tabir kenyataan
Mereka tak hiraukan
Ayahku bukan nestapa
Ibuku bukan derita
Mereka teraniaya bustam-bustam durjana
Mereka tersakiti cacian kalian takperpikir tanpa belas kasihan
Berjanji pada seuntai tekad sir ini
Suatu hari akan terbukti,
Kebenaran akan menampakan kenyataan
Menyadarkan bustam-bustam penipu
Mengubah kebencian dengan penghormatan
Ayah Bundaku
Ketegaranmu mendidik dinda
Tanggung jawabmu menumbuhkan surga
Pengormananmu iklas dijati diri
Bunda, bunda, bunda, Ayah maafkan lah
Pada diri yang hanya bisa perdoa pada yang kuasa
Kasihsayang dinda sampaikan pada kedua orangtua
Bertetes tasbih, bertabur perjuangna
Berkorban penuh keikhlasan

PAKSAAN KESUKSESAN
Karya : Cucu Abdul karim
Bangun-bangun, Mentari pagi telah menunggu
Gemericik air menanti, Tanah merah menyapa pijakan kakimu
Kegembiraan dambakan dirimu
Persiapkan rupiah seribu
Kedati putih bercorak 01 dan 02 siap mengantarmu
Tiba dalam arah pendidikan
Menyongsong harumnya masadepan
Bertahap dalam pelajaran
Tugas yang terus bergantian
Menunggu tiket penyelesaian
Semua ini menjadi lahapan pendidikan
Terkadang semangat, bahagia, leleh dan risau
Bahkan jengkel terus bergantian
Namun akhir penyelesaian menjadi senyuman
Taukah engkau ?
Kadang pakdaan mengantarkan pada kesuksesan
Bertahap dari paksaan, berakhir dengan senyuman
Terlahir satu pujian
Trimakasih atas paksaan pembelajaran
Telah menimbulkan kesuksesan san kebahagiaan

DUKA
Karya : Cucu Abdul karim
Duka yang menghampiri
Telahtersimpan penuh menyendiri
Bila duka kusampaikan pada langit
Maka langit menaruh awan gelap yang kan menagis
Bila duka kusampaikan pada angin
Maka angin akan menyeru tornado
Bila duka kusampaikan pada laut
Maka laut akan menggumpal badai
Kini langit menangis menebar duka
Tornado menerpa menebar kekacauan
Badai mengulung menebar kesedihan
Maka biarkan lah duka ini membusuk dalam hati
Biarkan duka ini hanyut bersama airmata
Biarkan duka ini menggulung raga
Dan biarkan duka ini menerpa bahagia
Namun bila engkau kasihan
Dengan duka dalam keterpurukan
Cukuplah engkau menyaksikan raga menyantap duka
Karna raga tak rela diri lain menikmati dukanya

ASVIRASI YANG MATI
Karya : Cucu Abdul karim
Kekonyolan rongkah didada
Terdiam semerba kaku gerak membius
Berbisik saling lontar angan seakan takut bersiul
Berteriak dikekang deret lima hurup awal tertinggi
Diungkap tabir nyali satria terkurung sarang yang lembut mengancam
Mereka mengalah atas hak milik bersama
Meneguk aman dalam detak angannya
Asvirasi yang mati atas jegalan yang diucapkan
Mengharap seuntai jujur yang siap dengan paktanya
Menoleh singgasana kami merenung kekecewaan
Mengeluh cekangan bila kami mengungkapkannya
Kami pemilik aspirasi-aspirasi yang hanyut seakan jasad takada
Kami pengungkap pakta harus cari aman
Kami takut suara-suara merdu dipersembahkan untuk para berani
Ucap hati yang sesak kejengkelan perjalan
Aku tahu mereka takan berorasi bila semua teruji
Nyali yang rongkah akan dikumandangkan
Bersama ribuan bahkan juraan terkuat maha
Kami mohon berikan hak milik umum
Apabila mengelah
Aktivis yang agersif akan saling menyalakan semangat menentang
Tetapi kami terlalu lemah, takut yang terus dikeluhkan
Kami lebih merangkul aman atas hurupnya
Sungguh kasihan para maha yang malang
Ini bukan napas pendidikan dan kebebasan
Tapi ini politik yang mencekang
Apa kami salahmenagih hak kami ?
10.05
27-04-2013
KAMI KECEWA PARA PETINGGI
Karya : Cucu Abdul karim
Mereka berorasi dalam padang angan-angan mereka sendiri
Penuh ambisi akan agen perubahan sekejap berhasil
Mengucap gombal selagi mereka bercinta
Untuk meraih simpatik sang awam
Mengumbar yakin disetiap  alunan pembujukan para pengharap biliar-biliar yakin
Mengibing-ngibing dengan giuran janji akan bumi selagi butuh
Kini percikan yang merakyat taklagi diumbar para pemain kata
Seolah kedekatannya sirna tertelan nafsu yang telah tercapai
Sejenak teringat akan gelesir-gelesir indah yang pernah ditebarnya
Maka buatlah seolah-olah tak pernah ada janji
Para penjilat begitu pintar mengendalikan kursi panas tahtanya
Harum aroma kesejahteraan telah terganti deengna bau busuk pengingkaran atas amanahnya
Ia anggap indara fakta begitu lemah atas penciuman aroma kebenaran
Ia anggap telinga ini tuli, mendengarkan kemericik palsunya
Ia anggap mata polos ini guram memandang tingkah kebustaman
Denar petinggi-petinggi jabatan
Kami kecewa berkali-kali luka digores kembali
Kami butuh obat amanah yang harus kalian yakinkan
Merdeka tak merdeka
Karya : Cucu Abdul karim
Apa kau takpernah menyangka
Diri ini terdidik oleh derita
Kau kira kami akan terus berlari diujung telunjuk jari
Kutegaskan tidak
Derita, siksa dan aniaya
Menjadi sejarah 1945
Yang telah terlahir jiwa merdeka
Dan tumbuh merdeka
Namun ternyata kejayaan 1945 mulai reda
Periode 2011/2012 telah menebasnya
Padahal belanda dan jepang tak menyerang
Tetapi kenapa seperti penjajahan  telah kembali
Ternyata tikus berdasi terus bernyanyi
Bersembunyi aduhai pintar sekali
Meskipun tertangkap dia dilindungi
Bahkan terbukti dia tak merasa menjadi pencuri
Taktiknya sungguh bagus sekali
Kepercayaan telah ternodai

Kepalsuan
Karya : Cucu Abdul karim
Dimana tetesan air matamu
Kemana nada keperdulianmu
Seperti telinga yang buta
Mata yang tuli, bibir yang lumpuh
Dan tubuh yang membius
Pertama berkata harapan
Kedua bernyanyi jaminan
Ketiga mulai membual
Seterusnya menjadi misteri
Oh begitukah yang dinamakan tong kosong nyaring bunyinya
Telah terbukti, terlihat, terasa dan terdengar
Bahkan aga ini mengerti tanpa didikan
Namun dirimu terdidik tak terdidik
Berkata tak berkata
Melihat tak melihat
Seperti bohong berteman bohong
Keman harus melangkah
Karya : Cucu Abdul karim
Jurang manakah yang harus dilewati
Terpikir sesaat jurang itu melambaikan harapannya
Terdapat impian yang akan dijalani
Kesuksesanyang cukup dipahami
Tetapi terkadang resiko yang terpamang
Menghalangi jalan jatuhnya harapan
Lalu bisikan itu mulai memadati telingaku
Dia bicara dengan sangat lembut
Dan beusaha meyakinkan harapan
Dia bersyair akulah yang pantas dijatuhi harapanmu
Pikiranku mulai berputar , Berelok-elok dalam keraguan
Langkah ini ataukah langkah itu
Mereka semua berusaha meyakinkanku
Rasa bingung dan keraguan, terus menyelimutiku
Aku yang takmampu melangkah, Tanpa jaminan kehidupan yang menjanjikan
Hanya bisa bersadu paku Pada alloh subhanahu wataala
Kubersimpu dihadapanmu
Tunjukan jalan kehidupan
Bagi umatmu yang tak berdaya ini
Diman masadepan ku ?
Karya : Cucu Abdul karim
Kata orang sukses itu harus
Namun harapanku hilang ditelan bayangan
Cita-citaku lenyap terbakar arus
Kesuksesanku tenggelam, terapung apung bersama batu
Aku yang hanya mampu terpaku dengna keadaan
Meratapi nasibku, Berdesah tanpa nafsu, dan berkata tanpa impian
Hingga terus berkata dengna kebohongan
Menjerit dan terus menjerit
Aku seperti sehelai daun yang terlepas dari tangkainya
Terombang ambing kemana angin membawaku terjatuh
Seolah-olah seperti boneka yang dikendalikan
Mereka menggerakan kekiri
Akupun bergerak dengna arah itu
Aku yang takmampu melangkah dengan impian dan harapanku
Jiwaku hampa, pikiranku melanyang tanpa arah
Bisakah aku keluar dari semua ini
Tetapi gerbang itu terus menjadi penghalang
Untuk terlepas dari semua ini
Tak ada daya hamba
Karya : Cucu Abdul karim
Batin ini kaku tanpa rasa
Mata memandang tanpa keindahan warna
Terkabur terbawa harapan hampa
Hari yang merontah terus menjerit
Berharap terus berharap
Bermimpi dan bahhakan terus bermimpi
Juwa ini seakan melarikan diri dari jasadnya
Tubuh yang kaku seperti batu
Mata menjerit tanpa pandangna
Telinga terkatup tanpa suara
Bibir buta tanpa daya
Keseimbanganku hilang taktersisa
Hati ini ingin berbisik pada dunia
Ada apa dengna semua ini ?
Hidup yang kaku, suara mencekam
Seperti waktu berhenti tanpa pergerakan
Hanya detak jantung yang tersisa
Telah mengoreskan satu makna kata
Alloh subhanahu wataala
Yang selalu melindungi umatnaya
Terluka
Karya : Cucu Abdul karim
Terpandang semata dunia cinta
Meratapi kehidupan yang bahagia
Sesaat terpandang sebuah kenangan
Tergores dalam benaku satu keinginan
Mencintaimu sepenuh hati
Menyayangimu sepenuh jiwa
Namun terkadang sebuah dambaan
Terenggang dengan keadaan
Terpisah dengna penghianatan
Dirimu tercipta bukan untuk didamba
Kau membuka hati untuk separuh jiwa
Menetesi kalbu dunia bahagia
Menusukan duri yang dalam disukma ini
Dunia indah saat kau tanamkan bunga dihati
Hidup ini cerah saat kau bersimpu memeluk sukma
Bebisik cinta dengan penuh kelembutan
Namun semua ini menjadi ratapan dan kesedihan
Saat kau lupa betapa berharganya sang pujangga
Berlari tanpa duga
Kau meninggalkan duri dilubuk hati ini
Merubah dunia dengan satu kata
Damba cinta takmungkin bersama
Meninggalkan sebuah cerita kita
Menjadikan memori cinta terluka
Mesi semua kau lakukan
Namun hati ini berharap dan terus berharap
Bermimpi dan terus bermimpi
Dirimu kembali pada sang pujangga
Meski dinda telah menggoreskan kepedihan
Menanamkan kepedihan yang mendalam
Namun aku terus menanti dengan kesetiaan ini
Terkadang hidup ini buta tampa warna
Cinta ini melewati batas aturannya
Mengerobohkan harapan
Menelantarkan sebuah masadepan
Pikiran ini kosong tanpa cinta
Dunia ini hampa tanpa dinda
Tetapi semua ini hanya sebuah hayalan
Halusinasi yang mendalam
Dinda pergi tanpa nurani
Dinda dusta dalam janji cinta
Aku bertanya
Dimana tetesan airmatamu ?
Kemana nada keperdulianmu ?
Hatinuraniu hilang tak terbayang
Pergi dengna penuh nestapa
Kesetiaan ini dikecewakan
Cinta suci ini dinodai
Sampai akhirnya hati dan perasaan mejadi korban
Sangpujangga telah terluka
Damba cinta tak berdaya
Read more...