AKU INGIN KEMBALI
Karya : Cucu Abdul karim
Kau tau sayang
Aku ini seperti jeruji-jeruji besi yang malang
Yang terus mendekap seluruh lapisan narapidana
Begitu juga jasad yang meneguk arak dalam pergaulanya
Menghisap darah pembunuhannya
Memakan daging keberutalanya
Masihkah engkau menyayangiku ?
Setelah melihat santapan kehidupan ini
Ataukah aku harus meninggalkanmu-
Agar engkau takkecewa dihujung pilu
Wahai cinntaku
Tolong buka mata hatimu, sadarlah dari ambisi nafsu
Tolong buka akal sehatmu dan berpikirlah aku bukan harapanmu
Aku mohon redupkan pilihan dari aarah maksiyat
Apabila engkau takmampuh
Maka sadarkan aku dalam tasbih surgamu
Terangi hatiku dengan batin ikhlasmu
Selimuti aku dengan kain sutra imanmu
Bawa aku pada jalan hamba tuhan yang agung
IMAN DAN TEKAD
Karya : Cucu Abdul karim
Aku terlalu pagi menyantap mentari
Aku terlalu malam kembali ppulang
Sesekali aku ingin todir lebih awal, tetapi aku tak bisa
Sesekali ingin bangun seperti seseorang pemalas,-
Tetapi aku tak bisa
Bahkan berniat meninggalkan semuanya, aku tak mampuh
Aku takut kalian kecewa terhadap laon yang diperankan
Aku tak mau dosa semakin menumpuk –
atas amanah yang diabaikan
mungkin tuhan akan kecewa atas rido kalian yang ku abaikan
meski begitu,
Aku adalah santri yang menyimpan rohani dalam diri
Meski begitu,
aku adalah mahasiswa yang menimpan imajinasi dalam otaknya
kini amanatmu telah kusarati
peraturanmu telah ku taati
hamba santri diri mahasiswa sejati
yang mengukir pagi demi tekad suci
yang menyapa petang merintih dosa dalam serpihan air mata
ini hati imanku dan ini pikitan tekadku
BUKANYA AKU TAK CINTA
CAYANG
Karya : Cucu Abdul karim
Kau ingin aku membelaimu
Kau ingin aku memelukmu
Kau ingin aku mengcup kening dan lisanmu
Dengarlah sayang
Aku bukan mereka yang melarang orang lain menyentuh -
kekasihnya, tetapi mereka merusaknya
Bukannya tak mau membelai, memeluk,-
menecup, dan menyalurkan hasratku
tetapi maapkan aku sayang
ini sanjung yang takharus membalaimu
ini kehangatan yang tak harus memelukmu
Ini senyun tang takharus menecupmu
Tetapi ini cinta bukan nafsu
Ini cita dan kasihsayang yang hanya kucurahkan untuknu,
tetapi takan kusajikan dalam sesosok nafsu
ini cinta yang takmau berdolim atas cintanya
ini kasih yang takan mencurahkan hasrat sebelim waktunya
TERLALU LETIH
Karya : Cucu Abdul karim
Ini pesan yang harus kusampaikan pada ayah dan ibu
Ibu, aku terlalu lemah untuk meraih dua mimpi sekaligus
Aku terlalu letih menjalani dua harapan yang disandarkan
Sehingga kakiku terasa kaku saat melangkah berulang-ulang -
menggapai mimpi
Ayah, saat dua harapan yang disajikan
Yakmungkin semuanya
bisa digapai semaksimal mungkin
Pastilah ada salahsatunya yang diunggulkan
Meski memang ada sebagian yang dapat meraihnya
Tetapi aku bukan orang istimewa yang bisa merangkul dua mimpi
secara bersamaan
Badan ini terlalu lesu, hati ini terlalu rapuh, semangat ini
terlalu mudah pudar dan napsu ini terlalu kuat mengendalikanku
Maka bila dijorongkan pena dan kertas, takmungkinlah aku dapat
menulis kembali, meski hanya suntai kata
Keletihan ini terlalu kuat melelapkan semangat perjalanan
Rasanya aku ingin terus lelap dalam tidurku -
dan takmau ku bangun kembali
aku sudah tak kuat menyaksikan perjalanan hidupku sendiri
SEMUA JEJAK PENA
Karya : Cucu Abdul karim
Aku menangis pada pelangi cita-cita yang begitu indah bila
diresapi dengan keikhlasan
Seiring deruh suara kawan menghibur lara dalam jeruji-jeruji
aral
Sapaan mereka yang sopan menambah kesal sunyi yang bersamanya
dalam ruang batin diri
Apalagi mereka membantak telah memancing emosi terpendam yang
terlalu lama tertahankan
Teringat ibarat sunda berkata : napsu kapegung, iga ngahalang,
amek kakurung kakusing
Bila ditafsir para remaja itu galau, tapi aku tidak galau
Bilang orang tua itugundah gulana, tapi tak ada yang
kuhawatirkan
Terus apa namanya ini kalau bukan galau dan gundah gulana ?
Ternyata keinginan yang tak bisa diungkapkan,
Unek-unek hati yang takmampu diucapkan
Dan akhirnya membusuk dalam cengkraman kepusingan
Aral rasanya memijakan kaki karna terpaksa
Kini takmampu aku ungkapkan semua keinginan ini
Karena napsu kapegung yang teerus memaksa tangan untuk
menggoreskan kemarahannya
Dan inilah aku yang sekarang
Akulah raga yang menaruh mimpi pada jejak pena
Akulah hati yang mengukir cinta pada jejak pena
Akulah rasa yang menuangkan bahagia pada jejak pena
Akulah perih yang melukiskan luka pada jejak pena
Akulah kesal yang menaruh muak pada jejak pena
Akulah benci yang menaruh dendam pada jejak pena
Akulah segala pusat harapan yang menjadikan jejak pena sebagai
tempat suka dukanya
Akulah pemimpi sempurnya yang mencurahkan semuanya pada jejak
pena
Meski ketergantungan pada jejak pena
Hendaknya mereka tahu aku punya keinginan yang pasti alasannya
dan pesan untuk disampaikan
Jangan pernah hentikan yadaen untuk mendirikan dan
menggoyangkan pena
Saat senang, bahkan ketika tak ada lagi tempat menyandarkan
napas kata dari nyawanya
Tetaplah hati merangkul mimpi dunia sejaga
Dalam engkoding corak kehidupan
Meski pimplan menelan harapan
PUDAR
Karya : Cucu Abdul karim
Sampai kapan keinginan ini terkurung dalam kegundahan
Memendam mimpi dalam sepi suara hati
Bila berkata menelan rasa
Bahkan terdiam mengiris hati
Bunda, kaki ini terlau kaku memijakan harapan
Tangan ini tak bernapsu memegang semangat
Dan takdapat lagi terbang tinggi dalam mimpi
Karna saya-sayap semangat telah rontok
Kini angin menghembus seolah-olah menyapa
Tetapi maapkanlah
Karena sir ini taklagi melayang dalam lautan harapan
Namun bilananti sayap ini tumbuh kembali
Kanku sampaikan kabar gembira disetiap helai surge
MERINDUKAN SANTRI
Karya : Cucu Abdul karim
Kaepa haluka ya santri ?
Raga tak tau mengapa hati bersiul merdu
Merindukan santri disenja sepi
Ingin menyapa meluap tanya ?
Masihkah lisan menghembus kalan, ditengah gelapnya lail,- Menghapal
syair-syair yakulu dalam dengung suara merdumu
Menyandar badan dirongga lirboyo, Memegang serpih-serpih
kertas taman badi’ah
Bahkan duduk selesehan mendekap betis terkurung sarung,-
Mengengut ro’si mengucap nada-nada surge
Ataukah membisingkan ruang dengan hapalan alpiah, dibibir
masuk helai pintu lirboyo
Kola muhammadun huabnu maliki
Ahmadurobilah ha khoro maloki
Musolian ala nabiyil mustopa
Waalihil mustakmilinna saropa
Inilah syair dengung merdu awal sapa karya ibnu malik
Bersama kalbu menggetarkan tasbih diawal pagi yang gelap
gulita
Bertekuk lutut rendahkan badan, Mengaku dosa dalam serpihan
air mata
Aku menuggumu dalam ruang batas waktu
Aku menunggu sapa dakwahmu ditengah nada-nada bumi yang
sumbang
Aku merindukan santri sejati
Menumpas bumi hamparkan suci
KAMI TERTIPU
Karya : Cucu Abdul karim
Disepanjang jalan
Kulihat wajah-wajah sunyi menaruh mimpi
Berharap sesekali sarat janji
Tetapi hany atipuan penuh kepalsuan
Yang ditunjukan penuh kepercayaan
Dulu kau baersyair harapan
Kami dengar suara amanah dibntangkan
Kami pandang sepanduk meyakinkan dihujung sepi
Kami yakin itu bukan bualan
Menggores yakin kau harapan
Data telah tersimpul kau manusia terpilih
Duduk sanding singgasana jabatan
Sejenak bernapas ingkari janji
Menjilat kembali liur yang kau ludahkan
Kami tertipu bustam harapan
Terlena bualan setan bungkelekan
Pandang kami ditepi mimpi
Kami tekpernah meminta jaminan dan
takpernah meminta balasan
Tapi kami berharap syarat janji
Berharap sidik jadi peribadai
SARAN BUAT PERJAKA
Karya : Cucu Abdul karim
Diri perjaka
Tokoh utama dalam sandiwara
Bermain kata dalam ucap indahnya
Membelai rasa sentuhkan birahi
Meluap kata penuh duka
Itu pujaan hanya warna rasa
Telengkan suka dalam sepotong hampa
Ini hati penikmat warna
Tinggalkan tangis dihujung kata romantika telah tiada
Wahai perjaka rasa
Dengarkanlah suara sapa kawan
Bila sika hanya sementara
Maka alurkan bahagia disetiap rongga dada para hawa
Bila puja hanya seutai kata
Maka sampaikanlah penuh bahagia
Dan bila rasa tak sebada, Jangan dampaikan duka dalam dada
Karna hawa bukan hiasan semata
Mereka rasa harus dijaga
Penitipp hati bual berjanji
Diupuk hayat merajut setia
TULAB
Karya : Cucu Abdul karim
Ya Tulab
Masihkah engkau bersiul ilmu
Mengucap tasbih merasuk hati
Membuka setiap lembar surga
Menerawang indahnya kata
Ya Tulab
Sudahkah kata memandang warna,-
Membeda duka bersama bahagia
Sudahkah lisan menghapal kalam,-
Mengucap syair-syair ilahi
Sudahkah teelinga merasukan surga,-
Menyimak seksama indahnya agama
Sudahkah tangan meraba kasih, -
Menolong hamba-hamba pengasih
Sudahkah hati rujukan iman, memilih islam sebagai suntikan
kehidupan
Maka jika itu kau perbuat
Tatapkan mata pada haknya
Ucapkan lisan pada tasbihnya
Telengkan telinga pada siulan surga
Rarabakan tangan lambaikan harapan
Sembuhkan hati memuji ilahi
TAK SEMPURNA
Karya : Cucu Abdul karim
Ketika mata menaruh pedih
Membeda haru melayap rindu
Mengalir sunyi hantarkan sepi
Meneteskan napsu uraikan empedi
Kelopak meratap sunyikan senja
Saat pilihan hati tinggalkan hampa
Menebar duka didasar rasa
Tinggalkan empedu saut mengadu
Ucapkan salam lepaskan janji
Merubah warna sekejap nada
Terdenagar senandung redupkan syair
Membuka hati lemparkan dinda
Menutup kalbu masukan dia
Gores teerpojok menyingkir raga
Taklayak guna diakhir bosan
Pujaan lama telah kadaluarsa
Beta terganti pujaan lain
Beta tidak sempurna buat adinda
NADA YANG REDUP
Karya : Cucu Abdul karim
Selembir cinta tak lagi merdu
Saat nada-nada kasih telah sumbang
Karna senar-senar setia telah putus
Terbinggung jari kemana memetik sanjung
Menyatukan indahnya syair dengan musik
Memadu lembutnya kata surga merasuk telinga
Wahai gitaris, cepatlah ganti senar rasamu
Sebelum hati menaruh sunyi
Nyanyikan duru merujuk hati
Mengubah kunci pilihan dengan pukulan dram
Memukulkan setick penghianatan mengerung kencang
Engkau kekasih yang hilang
Tinggalkan kenangan memupuk rindu
Ucapkan salam pisahkan warna
Senar hati tidak pernah merdu
Senar hati ini telah putus
Takdapat disambung harus diganti
Dengan senar hati yang lain
DEWI
Karya : Cucu Abdul karim
Masihkah engkau menunggu sang dewi
Datang menghampiri redupkan sepi
Memijakan kaki diatas denyut hati
Meski dewi terus bernyanyi
Tak pernah sudu membagi hati
Membelah jiwa separuh raga
Mengiris kasih lautan sejaga
Menutup pintu masukan rindu dikalbu
Dia sengdewi ratu pujaan
Merontah hati bisikan rasa
Engkau dewi pujaan raga semata
Dengarkanlah setiap makna detak jantung ini
Berdenyut kalbu detakan dambaan
Ismi Dewi ismi Dewi ismi Dewi
Bersihkeraskah dewi campakan rasa
Yang telah menyatu tiada ada beda
Telah menggumpal memadu satu
Rasa dan hati ini takan terhenti
Memuja dewi sandaran hati
MERINDUKAN PAGI
Karya : Cucu Abdul karim
Wahai pagi,
Akankah esik engkau menanti
Menyapa hantarkan kesejukan
Membawa embun pelengkap aroma
Menggugah rasa alurkan semangat
Merambat cahaya terangi jalan
Membawa siuran uspur menggelik
Mengawali ocehan bocah-bocah ingusan
Memanggil para wanita keluar ucapkan kata
Wahai pagi
Seakan dirimu sesosok sugesti
Menyuruh ibu menanak nasi
Memerintah ayah menggali nafkah
Bahkan memeksa raga untuk meraih segala
Ironisnya pengaruh pagi memaksa semua berraktipitas
Menyalakan mesin-mesin kehidupan
Engkau kedati perjalanan ekonomi
Wahai pagi dengarkan teriakan hati ini
Masihkah esok hari engkau memaksa mentari
Terus menyapa seluruh hamparan duniyawi
Memulai aktivitas bersama pagi
Kini kehawatiran terus menjadi-jadi
Engkau teerhenti dan bila terjadi
Kehidupan akan mati
Saat pagi tak menyapa
Saat pagi telan semangat
Hingga engkau hentikan kehidpan
Tamatnya peradaban
Pagi aku menunggumu dan aku menunggu esok harimu
MENGUNGKAP JAWABAN NURANI
Karya : Cucu Abdul karim
Mungkinkah hatiku akan tersentuh
Tumbuhkan rasa manusiamu
Apakah kata yang kan kau ucapkan
Saat ia menghampiri mengadu kehidupannya
Yang hanya ia persembahkan
Raut harapan ia sajikan bersama ratapkan takdirnya
Tangankah yang kau ulurkan ?
Satu kata maaf yang kau lontarkan ?
Hanya senyuman yang kau ikhlaskan ?
Bisa jadi kau memarahi, bahkan mencaci
Kata jiji, jorok mungkin akan terucap bila napsu menyelimuti
Bahkan kau takmenghiraukan
Sungguh penuh keiroisan
Nada nurani kau tegaskan
Tataplah mereka dengan penuh kasihsayang
Saat nadi berdenyut, jantung berdetak
Mata durjana ini hanya bisa menetekan kepiluan
Tak kuasa menyaksikan santapan pandangan
Hidup ini bukan salah mereka
Nasib ini bukan aturan yang bisa diubah
Namun takdir tak memandang kasihan
Aku, kamu, dia, mereka tak jadi alasan takdir
Semua berjalan sesuai porsi kehidupan
SUARA HATI UNTUK RATU
Karya : Cucu Abdul karim
Ku ketuk siggasana ratu
Terlontar salam dihelai pintu
Berharap sapaan sapaan kerinduan
Menunggu bisikan ijinkan masuk
Namun penentian tiada balasan
Hening terniang sepi berbaring dalam suasana
Terungkap tanya diamana nada yang kurindukan ?
Memaksa masuk lipatkan sepatu
Tertatap ratu berbaring diatas hampar kayu
Menutup warna mata redupkan lesu
Terlihat rongga menggenggam nyawa
Hembuskan lelah disetiap napasnya
Raga ini letih tak tertahankan
Saat bola pandangan menyaksikan
Kulit yang keriput terus dibentangkan
Melawan mentari yang menyengat pori-pori
Kaki yang pecah sajikan perjuangan
Keringat yang tumpah menaruh tasbih pengorbanan
Kini hati terus memaki diri
Saat berpoya diatas keringatnya
Tersadar sesal hantarkan haru
Perjuanganmu mendidik dinda
Kasihsayangmu ungkapakn surga
Ratu terbangun dari lelapnya
Bergerak kilat memeluk raga
Sampaikan rindu menanti dinda
Ucapkan harapan yang dilontarkan
Suahkah engkau berenang dalam lautan ilmu
Sudahkah engkau bermain pasir butiran ilmu
Sudahkah engkau meneguk segarnya ilmu
Dan apabila sajian yang akan dipersembahkan
Ataukah engkau hanya membawa debu-debu lesu yang didapatkan
Bahkan penysalan yang disajikan
Ratu merindukan buah perjuangan yang kusandarkan dalam
hamparan pendidikan
Ratu dengarkan detak suaraku
Merontah langit menggali bumi
Menggurung napsu membongkar masadepan
Ini selembar harapan yang kusajikan, penuh kecupan perjuangan
Tiap kecupan menaruh beribu keindahan
Yangkan tumbuh bersama hati para sastrawan
Yangku ukirkan disetiap lembaran
IMPIAN PALSU
Karya : Cucu Abdul karim
Jelajah dunia sunyi
Mendesah alunan kehidupan
Pagi menyinari seja menyapa
Malam terniang hilang tanpa pandang
Ilusi kehidupan yang membayang
Gambaran masadepan yang teriang
Menjanjikan sebuah kehidupan
Pendidikan yang terpandang
Kini telah sayup
Dunia pudar meroboh harapan
Wahai engkau sarjana muda
Yang menaruh harapan dalam sepotong senja kehidupan
Memanjakan harapan dalam
seuntai corak yang berbaris diatas kertas
Dasi yang menempel didada,
seakan dunia takluk akan busana
Kini tak lagi ada harganya
Tinta ini melambaikan harapan
Tulisan ini menggoreskan
masadepan
Namun kenapa pengangguran
jadi akhirnya
Kepiluan menjadi kehidupan
Begitu sempitkah ruang waktu
ini
Begitu cepatnya alur
kehidupan
Mereka hanya bisa menangis,
bersedih, pilu bersama alunan kehidupan
Akankah ini akhir sebuah
kehidupan
Mungkinkah ini cita-cita
palsu ?
PERDANA PANGGUNG TT3
Karya : Cucu Abdul karim
Jerih keringat yang gigih
terus dikumandangkan
Jejak semangat terus
dipijakan oleh sangkawan diatas kesiapan
Lelah yang terus menyandar
dalam diri, -
Takan sayupkan gairah
keberhasilan
Meski terkadang beda kata
beda pikiran terus diperbincangkan
Sempat sayup serasa raut
risau keinginan takkan tersampaikan
Walau rintang takkunjung
padam menerjang jiwa-jiwa berani pementasan
Iringan kebersamaan terus
disanjung pada jiwa sempat redup
Mengharap tumbuh puncak
jempol para penikmat
Aku kagum pada langit mala
ini yang terus merintihkan tangis tasbihnya
Tetapi aku lebih bangga pada
langit yang tersenyum dalam gelap taburan bintang
Kami ta’kan pernah kalah
dengan persetruan langit dan bumi yang saling menyingsingkan panas dan hujan
Kami akan terus berjuang
dalam panggung pementasan
Hingga tepuk yang ramai terus
diiring tangan-tangan kagum
Aku bangga pada sahabat
Teater Tangtu Tilu
BAGAI MANA MASADEPANKU
Karya : Cucu Abdul karim
Mendang dalam lautan
kehidupan
Terpaku ditengah harapan
Bermimpi hingga ditepi
angan-angan
Oh masadepan
Raga ini ragu akan takdirnya
Jiwa ini rapuh bersama alunan
kehidupan
Aku yang merenung dalam
keraguan
Dinda yang terjebak dalam
nestapa masaepan
Taktahu arah jalan kesuksesan
Terus berelok-elok dalam
detak kehidupan
Berangan-angan semua berakhir
dengan mudahnya
Namun ini takmungkin terwujud
Tanpa jerih payah dan
pengorbanan
Mari berlayar menerjang ombak
rintangan
Terus mendayung menuju tepi
harapan
Hingga akhirnya kau dapatkan
keindahan
Kesuksesan menuggu kau
menghampirinya
Dia menjanjikan beribu-ribu
impian yang engkau dambakan
Namun itu takmudah kau
dapatkan
Tanpa desah perjuangan dan
pengorbanan
INDAH KARENA NESTAPA
Karya : Cucu Abdul karim
Terkadang orang memandang
sebelah mata
Meremehkan jalan nasib
pujangga hina
Mencaci penyair tanpa kira
Cacian, hinaan , keterpojokan
menjadi dantapan sukses bagi diri
Bagiku ...
Bibirmu begitu indah
menggoreskan luka
Sikapmu begitu lembut
memojokan pujangga
Memandang hina kehidupannya
Seakan sekali sampah tetap
sampah
Kami tegaskan satu
hentakankehidupan
Kesombongan, cacian, hinaan,
keterpojokan telah membuatnya bahagia
Mungkin kalian terus bertanya
Kok bisa ? padahal kan ? oh
no...
Aku pujangga yang lahir
karena suasana memojokannya
Aku datang karena cacian
terus menghampirinya
Aku berkarya karena dusta
telah banyak menipunya
Jakan kau kira aku tak dapat
berkarya dengan nestapa
Dunia hanya semata hilang
dengan sekejap saja
Meski goresan kata terus
tersimpan
Dan tumbuh bersama pemikiran
senimanya
Luka ini kan kusimpan dengna
nyaman
Terimakasih atas pahitnya
kehidupan
ORANG TUAKU BUKAN NESTAPA
Karya : Cucu Abdul karim
Kehidupan ini begitu menawan
Dunyawi ini terus menjanjikan
Namun aku tak sadar
Ragamu sungguh teraniyaya
Jiwamu begituh tersiksa
Napasmu penuh batasan
kehidupan
Kalian begitu menderita dinda
takkuasa
Dirimu pilu dinda tak tahu
Mereka menerkam suasana dinda
tak dapat menghalanginya
Semua menyangka kalian
nestapanya
Mereka tumpahkan derita pada
tabah milik kalian
Taksadar karna nafsu dan
benci yang menjalarnya
Aku tak kuasa meratapinya
Lensa terus bertetes memikul
pandangan
Hati merintih menyaksi
rasanya
Aku ingin ungkap tabir
kenyataan
Mereka tak hiraukan
Ayahku bukan nestapa
Ibuku bukan derita
Mereka teraniaya
bustam-bustam durjana
Mereka tersakiti cacian
kalian takperpikir tanpa belas kasihan
Berjanji pada seuntai tekad
sir ini
Suatu hari akan terbukti,
Kebenaran akan menampakan
kenyataan
Menyadarkan bustam-bustam
penipu
Mengubah kebencian dengan
penghormatan
Ayah Bundaku
Ketegaranmu mendidik dinda
Tanggung jawabmu menumbuhkan
surga
Pengormananmu iklas dijati
diri
Bunda, bunda, bunda, Ayah
maafkan lah
Pada diri yang hanya bisa
perdoa pada yang kuasa
Kasihsayang dinda sampaikan
pada kedua orangtua
Bertetes tasbih, bertabur
perjuangna
Berkorban penuh keikhlasan
PAKSAAN KESUKSESAN
Karya : Cucu Abdul karim
Bangun-bangun, Mentari pagi
telah menunggu
Gemericik air menanti, Tanah
merah menyapa pijakan kakimu
Kegembiraan dambakan dirimu
Persiapkan rupiah seribu
Kedati putih bercorak 01 dan
02 siap mengantarmu
Tiba dalam arah pendidikan
Menyongsong harumnya
masadepan
Bertahap dalam pelajaran
Tugas yang terus bergantian
Menunggu tiket penyelesaian
Semua ini menjadi lahapan
pendidikan
Terkadang semangat, bahagia,
leleh dan risau
Bahkan jengkel terus
bergantian
Namun akhir penyelesaian
menjadi senyuman
Taukah engkau ?
Kadang pakdaan mengantarkan
pada kesuksesan
Bertahap dari paksaan,
berakhir dengan senyuman
Terlahir satu pujian
Trimakasih atas paksaan
pembelajaran
Telah menimbulkan kesuksesan
san kebahagiaan
DUKA
Karya : Cucu Abdul karim
Duka yang menghampiri
Telahtersimpan penuh
menyendiri
Bila duka kusampaikan pada
langit
Maka langit menaruh awan
gelap yang kan menagis
Bila duka kusampaikan pada
angin
Maka angin akan menyeru
tornado
Bila duka kusampaikan pada
laut
Maka laut akan menggumpal
badai
Kini langit menangis menebar
duka
Tornado menerpa menebar
kekacauan
Badai mengulung menebar
kesedihan
Maka biarkan lah duka ini
membusuk dalam hati
Biarkan duka ini hanyut
bersama airmata
Biarkan duka ini menggulung
raga
Dan biarkan duka ini menerpa
bahagia
Namun bila engkau kasihan
Dengan duka dalam
keterpurukan
Cukuplah engkau menyaksikan
raga menyantap duka
Karna raga tak rela diri lain
menikmati dukanya
ASVIRASI YANG MATI
Karya : Cucu Abdul karim
Kekonyolan rongkah didada
Terdiam semerba kaku gerak membius
Berbisik saling lontar angan seakan takut bersiul
Berteriak dikekang deret lima hurup awal tertinggi
Diungkap tabir nyali satria terkurung sarang yang lembut
mengancam
Mereka mengalah atas hak milik bersama
Meneguk aman dalam detak angannya
Asvirasi yang mati atas jegalan yang diucapkan
Mengharap seuntai jujur yang siap dengan paktanya
Menoleh singgasana kami merenung kekecewaan
Mengeluh cekangan bila kami mengungkapkannya
Kami pemilik aspirasi-aspirasi yang hanyut seakan jasad takada
Kami pengungkap pakta harus cari aman
Kami takut suara-suara merdu dipersembahkan untuk para berani
Ucap hati yang sesak kejengkelan perjalan
Aku tahu mereka takan berorasi bila semua teruji
Nyali yang rongkah akan dikumandangkan
Bersama ribuan bahkan juraan terkuat maha
Kami mohon berikan hak milik umum
Apabila mengelah
Aktivis yang agersif akan saling menyalakan semangat menentang
Tetapi kami terlalu lemah, takut yang terus dikeluhkan
Kami lebih merangkul aman atas hurupnya
Sungguh kasihan para maha yang malang
Ini bukan napas pendidikan dan kebebasan
Tapi ini politik yang mencekang
Apa kami salahmenagih hak kami ?
10.05
27-04-2013
KAMI KECEWA PARA PETINGGI
Karya : Cucu Abdul karim
Mereka berorasi dalam padang
angan-angan mereka sendiri
Penuh ambisi akan agen
perubahan sekejap berhasil
Mengucap gombal selagi mereka
bercinta
Untuk meraih simpatik sang
awam
Mengumbar yakin disetiap alunan pembujukan para pengharap
biliar-biliar yakin
Mengibing-ngibing dengan
giuran janji akan bumi selagi butuh
Kini percikan yang merakyat
taklagi diumbar para pemain kata
Seolah kedekatannya sirna
tertelan nafsu yang telah tercapai
Sejenak teringat akan
gelesir-gelesir indah yang pernah ditebarnya
Maka buatlah seolah-olah tak
pernah ada janji
Para penjilat begitu pintar
mengendalikan kursi panas tahtanya
Harum aroma kesejahteraan
telah terganti deengna bau busuk pengingkaran atas amanahnya
Ia anggap indara fakta begitu
lemah atas penciuman aroma kebenaran
Ia anggap telinga ini tuli,
mendengarkan kemericik palsunya
Ia anggap mata polos ini
guram memandang tingkah kebustaman
Denar petinggi-petinggi
jabatan
Kami kecewa berkali-kali luka
digores kembali
Kami butuh obat amanah yang
harus kalian yakinkan
Merdeka tak merdeka
Karya : Cucu Abdul karim
Apa kau takpernah menyangka
Diri ini terdidik oleh derita
Kau kira kami akan terus
berlari diujung telunjuk jari
Kutegaskan tidak
Derita, siksa dan aniaya
Menjadi sejarah 1945
Yang telah terlahir jiwa
merdeka
Dan tumbuh merdeka
Namun ternyata kejayaan 1945
mulai reda
Periode 2011/2012 telah
menebasnya
Padahal belanda dan jepang
tak menyerang
Tetapi kenapa seperti
penjajahan telah kembali
Ternyata tikus berdasi terus
bernyanyi
Bersembunyi aduhai pintar
sekali
Meskipun tertangkap dia
dilindungi
Bahkan terbukti dia tak
merasa menjadi pencuri
Taktiknya sungguh bagus
sekali
Kepercayaan telah ternodai
Kepalsuan
Karya : Cucu Abdul karim
Dimana tetesan air matamu
Kemana nada keperdulianmu
Seperti telinga yang buta
Mata yang tuli, bibir yang
lumpuh
Dan tubuh yang membius
Pertama berkata harapan
Kedua bernyanyi jaminan
Ketiga mulai membual
Seterusnya menjadi misteri
Oh begitukah yang dinamakan
tong kosong nyaring bunyinya
Telah terbukti, terlihat,
terasa dan terdengar
Bahkan aga ini mengerti tanpa
didikan
Namun dirimu terdidik tak
terdidik
Berkata tak berkata
Melihat tak melihat
Seperti bohong berteman
bohong
Keman harus melangkah
Karya : Cucu Abdul karim
Jurang manakah yang harus
dilewati
Terpikir sesaat jurang itu
melambaikan harapannya
Terdapat impian yang akan
dijalani
Kesuksesanyang cukup dipahami
Tetapi terkadang resiko yang
terpamang
Menghalangi jalan jatuhnya
harapan
Lalu bisikan itu mulai
memadati telingaku
Dia bicara dengan sangat
lembut
Dan beusaha meyakinkan
harapan
Dia bersyair akulah yang
pantas dijatuhi harapanmu
Pikiranku mulai berputar ,
Berelok-elok dalam keraguan
Langkah ini ataukah langkah
itu
Mereka semua berusaha
meyakinkanku
Rasa bingung dan keraguan,
terus menyelimutiku
Aku yang takmampu melangkah,
Tanpa jaminan kehidupan yang menjanjikan
Hanya bisa bersadu paku Pada
alloh subhanahu wataala
Kubersimpu dihadapanmu
Tunjukan jalan kehidupan
Bagi umatmu yang tak berdaya
ini
Diman masadepan ku ?
Karya : Cucu Abdul karim
Kata orang sukses itu harus
Namun harapanku hilang
ditelan bayangan
Cita-citaku lenyap terbakar
arus
Kesuksesanku tenggelam,
terapung apung bersama batu
Aku yang hanya mampu terpaku
dengna keadaan
Meratapi nasibku, Berdesah tanpa
nafsu, dan berkata tanpa impian
Hingga terus berkata dengna
kebohongan
Menjerit dan terus menjerit
Aku seperti sehelai daun yang
terlepas dari tangkainya
Terombang ambing kemana angin
membawaku terjatuh
Seolah-olah seperti boneka
yang dikendalikan
Mereka menggerakan kekiri
Akupun bergerak dengna arah
itu
Aku yang takmampu melangkah
dengan impian dan harapanku
Jiwaku hampa, pikiranku
melanyang tanpa arah
Bisakah aku keluar dari semua
ini
Tetapi gerbang itu terus
menjadi penghalang
Untuk terlepas dari semua ini
Tak ada daya hamba
Karya : Cucu Abdul karim
Batin ini kaku tanpa rasa
Mata memandang tanpa
keindahan warna
Terkabur terbawa harapan
hampa
Hari yang merontah terus
menjerit
Berharap terus berharap
Bermimpi dan bahhakan terus
bermimpi
Juwa ini seakan melarikan
diri dari jasadnya
Tubuh yang kaku seperti batu
Mata menjerit tanpa pandangna
Telinga terkatup tanpa suara
Bibir buta tanpa daya
Keseimbanganku hilang
taktersisa
Hati ini ingin berbisik pada
dunia
Ada apa dengna semua ini ?
Hidup yang kaku, suara
mencekam
Seperti waktu berhenti tanpa
pergerakan
Hanya detak jantung yang
tersisa
Telah mengoreskan satu makna
kata
Alloh subhanahu wataala
Yang selalu melindungi
umatnaya
Terluka
Karya : Cucu Abdul karim
Terpandang semata dunia cinta
Meratapi kehidupan yang
bahagia
Sesaat terpandang sebuah
kenangan
Tergores dalam benaku satu
keinginan
Mencintaimu sepenuh hati
Menyayangimu sepenuh jiwa
Namun terkadang sebuah
dambaan
Terenggang dengan keadaan
Terpisah dengna penghianatan
Dirimu tercipta bukan untuk didamba
Kau membuka hati untuk
separuh jiwa
Menetesi kalbu dunia bahagia
Menusukan duri yang dalam
disukma ini
Dunia indah saat kau tanamkan
bunga dihati
Hidup ini cerah saat kau
bersimpu memeluk sukma
Bebisik cinta dengan penuh
kelembutan
Namun semua ini menjadi
ratapan dan kesedihan
Saat kau lupa betapa
berharganya sang pujangga
Berlari tanpa duga
Kau meninggalkan duri dilubuk
hati ini
Merubah dunia dengan satu
kata
Damba cinta takmungkin
bersama
Meninggalkan sebuah cerita
kita
Menjadikan memori cinta terluka
Mesi semua kau lakukan
Namun hati ini berharap dan
terus berharap
Bermimpi dan terus bermimpi
Dirimu kembali pada sang
pujangga
Meski dinda telah
menggoreskan kepedihan
Menanamkan kepedihan yang
mendalam
Namun aku terus menanti
dengan kesetiaan ini
Terkadang hidup ini buta
tampa warna
Cinta ini melewati batas
aturannya
Mengerobohkan harapan
Menelantarkan sebuah
masadepan
Pikiran ini kosong tanpa
cinta
Dunia ini hampa tanpa dinda
Tetapi semua ini hanya sebuah
hayalan
Halusinasi yang mendalam
Dinda pergi tanpa nurani
Dinda dusta dalam janji cinta
Aku bertanya
Dimana tetesan airmatamu ?
Kemana nada keperdulianmu ?
Hatinuraniu hilang tak
terbayang
Pergi dengna penuh nestapa
Kesetiaan ini dikecewakan
Cinta suci ini dinodai
Sampai akhirnya hati dan
perasaan mejadi korban
Sangpujangga telah terluka
Damba cinta tak berdaya