"Di depan berhenti dulu ya sebentar," kata Miu sambil menepuk-nepuk pundak Aryo. Aryo pun mengangguk dan menepikan sepeda motor maticnya di depan sebuah toko kelontongan. Meski dalam hati Ario penuh tanya tapi ia tak menanyakan alasan Miu meminta berhenti. Ya begitulah Ario, lebih suka memendam sesuatu dan irit bicara, sementara Miu yang ceria dan bawel, mereka tampak kontras namun selalu bersama.
"Tunggu bentar ya aku mau beli ember dulu, ember di kostanku pecah," ujar Miu sembari langsung meloncat turun dari motor Ario.
Ario dan Miu sudah sembilan bulan terakhir ini berteman. Merek dipertemukan di lokasi tempat mereka bekerja. Sejak saat itu, mereka bagai amplop dan perangko, kemana-mana selalu berdua. Dimanaa ada Ario, disitu ada Miu. Terlebih lagi tempat tinggal mereka searah, mau tidak mau Ario selalu menawarkan tumpangan setiap kali hendak pulang kerja. Dan Miu tentu saja tidak menolak, ketimbang harus naik TransJakarta yang pada saat jam sibuk penuhnya kadang tidak manusiawi, Miu berpikir akan lebih aman dan nyaman berada dibalik punggung Ario menembus kemacetan Ibu Kota.
Seperti sore ini, seperti biasa Miu pulang diantar Ario. Tak banyak yang mereka obrolkan sepanjang perjalanan, kadang keduanya hanya diam dan Miu asyik sendiri mendengarkan musik dari earphone nya.
beberapa menit kemudian Miu tampak keluar dari toko kelontongan sambil menenteng ember plastik hitam bertuliskan 'Anti Pecah' di tangan kanan dan bungkusan lain di tangan kiri.
melihat Ario yang menunggu di motor sambil tersenyum menatapnya, Miu merasa tak tega telah membuat pria berbadan kurus tersebut menunggunya.
Lalu ia teringat, beberapa waktu lalu ia mempunyai voucher coklat beli satu gratis satu di IndoApril, kebetulan toko tersebut ada di dekatnya.
tanpa pikir panjang, Miu pun berlari memasuki IndoApril dan langsung mengambil dua batang cokelat. Setelah membayar dengan menunjukkan kode voucher, Miu pun kembali menuju Ario yang sedari tadi tidak turun dari motornya sebab ia enggan mengeluarkan biaya parkir. Ya, biaya parkir di Jakarta kadang tak sesuai dengan service yang didapat, bahkan kadang tidak dilayani sama sekali, ketika sudah siap untuk berangkat tukang pakir baru nongol sembari menadahkan tangannya.
"Nih buat kamu," kata Miu sambil menyodorkan sebatang coklat untuk Ario, sebatang lagi tentu ia simpan dalam tasnya untuk cemilan di kostan nanti.
Ario langsung tersentak dan tersadar dari kantuknya. Motornya sempat bergoyang, untung saja tidak jatuh . "Wah ada apa nih tiba-tiba ngasih coklat? hari valentine kan udah lama lewat," tanya Ario.
"Ambil aja nih, selama ini aku gak pernah ngasih kamu apa-apa padahal kamu selalu kasih tumpangan, apalagi sekarang kamu nungguin aku beli ember" jawab Miu sambil menyimpan ember dan belanjaan lainnya di motor Ario. Tanpa banyak tanya lagi Ario pun mengambil coklat berbungus kuning tersebut.
Entah siapa yang menyebarkan cerita tersebut. Beberapa hari kemudian di tempat kerja Miu dan Ario santer beredar kabar kalau mereka berdua mengalami cinta lokasi alias cinlok. Kabar Miu memberi sebatang coklat untuk Ario laris manis bak kacang goreng. Tanpa ada yang tahu kalau sebetulnya coklat tersebut dibeli dengan voucher dan sebagai imbalan karena telah menemani membeli ember.
Mulanya, Miu dan Ario tak ambil pusing dengan gosip tersebut. Akan tetapi, lama kelamaan mereka mulai merasa jengah dan akhirnya saling menjaga jarak satu sama lain.
Miu kini selalu pulang sendiri naik TransJakarta. Jika Ario mengajaknya untuk pulang, ia selalu berdalih pekerjaannya belum rampung dan mempersilakan Ario untuk pulang duluan.
Seminggu sudah mereka seperti itu, Miu mulai merasa ada yang hilang dari hidupnya. Ia pun mencari-cari sampai ke bawah meja kerjanya, kemudian tersadar bahwa yang hilang dari hidupnya bukan sebuah barang, melainkan Ario.
Terasa sekali perbedaan pulang bersama Ario dengan pulang bersama puluhan penumpang dalam sebuah bus TransJakarta. Sesampainya di kostan, Miu selalu merasa pegal-pegal karen berdiri di dalam bus sepanjang perjalanan menuju kostan.
Terlintas dalam pikiran Miu untuk meyapa Ario lewat aplikasi chatting Wacap. Ia mencari kontak bernama Ario dan mulai megetik sesuatu di kolom chat. "Yo, kamu sudah sampai rumah?" tulis Miu.
Cukup lama pesan tersebut tak berbalas, bahkan belum dibaca oleh Ario. Miu memutuskan untuk pulang tanpa mennggu balasan. Dalam perjalanan dalam bis, tiba-tiba handphone Miu yang disimpan dalam ta berdering tanda ada pesan yang masuk. "Aku baru sampai, maaf baru balas tadi mampirdulu ke tempat teman," bunyi pesan tersebut yang ternyata merupakan balasan dari Ario.
Entah mengapa Miu tiba-tiba merasa senang begitu mendapat balasan dari Ario. Akhirnya sepanjang perjalanan Miu dalam bis menghabiskan waktunya dengan chattingan bersama Ario. Banyak yang mereka obrolkan lewat aplikasi chatting Wacap, bahkan lebih banyak dari obrolan mereka selama ini di kehidupan nyata.
Hari demi hari ario dan miu semakin akrab didunia maya. Namun, di dunia nyata hubungan mreka masih belum ada kemajuan. Miu bahkan sudah tidak pernah nebeng pulang lagi bersama Ario dan seketika gosip tentang mereka pun tenggelam sudah.
Ario sekarang jarang membawa motor, ia lebih sering berangkat dan pulang bersama Jodi, tetangga sekaligus rekan kerjanya.
Usut punya usut ternyata Jodi sudah cukup lama memendam perasaan terhadap Miu. ia mengutarakan hal tersebut pada Ario saat sedang makan siang bersama di kantin kantor. Sontak Ario kaget mendengar pengakuan tersebut.
"bantuin gue buat dapetin Miu ya Yo, lo kan deket sama dia," pinta Jodi. Ario tak langsung menjawab, ia melamun sebentar dengan pikiran yang kacau. "Yo Yo hey," tegur jodi sambil menuk pundak Ario. "Eh ya ya apaan tadi sory gue melamun," kata Ario.
"Bantu gue buat bisa jadian sama Miu," ulang Jodi.
"Caranya?" tanya Ario. Kemudian Jodi meminta nomor kontak Miu dengan terpakss, Ario memberikan nomor handphone Miu pada Jodi.
"Tunggu bentar ya aku mau beli ember dulu, ember di kostanku pecah," ujar Miu sembari langsung meloncat turun dari motor Ario.
Ario dan Miu sudah sembilan bulan terakhir ini berteman. Merek dipertemukan di lokasi tempat mereka bekerja. Sejak saat itu, mereka bagai amplop dan perangko, kemana-mana selalu berdua. Dimanaa ada Ario, disitu ada Miu. Terlebih lagi tempat tinggal mereka searah, mau tidak mau Ario selalu menawarkan tumpangan setiap kali hendak pulang kerja. Dan Miu tentu saja tidak menolak, ketimbang harus naik TransJakarta yang pada saat jam sibuk penuhnya kadang tidak manusiawi, Miu berpikir akan lebih aman dan nyaman berada dibalik punggung Ario menembus kemacetan Ibu Kota.
Seperti sore ini, seperti biasa Miu pulang diantar Ario. Tak banyak yang mereka obrolkan sepanjang perjalanan, kadang keduanya hanya diam dan Miu asyik sendiri mendengarkan musik dari earphone nya.
beberapa menit kemudian Miu tampak keluar dari toko kelontongan sambil menenteng ember plastik hitam bertuliskan 'Anti Pecah' di tangan kanan dan bungkusan lain di tangan kiri.
melihat Ario yang menunggu di motor sambil tersenyum menatapnya, Miu merasa tak tega telah membuat pria berbadan kurus tersebut menunggunya.
Lalu ia teringat, beberapa waktu lalu ia mempunyai voucher coklat beli satu gratis satu di IndoApril, kebetulan toko tersebut ada di dekatnya.
tanpa pikir panjang, Miu pun berlari memasuki IndoApril dan langsung mengambil dua batang cokelat. Setelah membayar dengan menunjukkan kode voucher, Miu pun kembali menuju Ario yang sedari tadi tidak turun dari motornya sebab ia enggan mengeluarkan biaya parkir. Ya, biaya parkir di Jakarta kadang tak sesuai dengan service yang didapat, bahkan kadang tidak dilayani sama sekali, ketika sudah siap untuk berangkat tukang pakir baru nongol sembari menadahkan tangannya.
"Nih buat kamu," kata Miu sambil menyodorkan sebatang coklat untuk Ario, sebatang lagi tentu ia simpan dalam tasnya untuk cemilan di kostan nanti.
Ario langsung tersentak dan tersadar dari kantuknya. Motornya sempat bergoyang, untung saja tidak jatuh . "Wah ada apa nih tiba-tiba ngasih coklat? hari valentine kan udah lama lewat," tanya Ario.
"Ambil aja nih, selama ini aku gak pernah ngasih kamu apa-apa padahal kamu selalu kasih tumpangan, apalagi sekarang kamu nungguin aku beli ember" jawab Miu sambil menyimpan ember dan belanjaan lainnya di motor Ario. Tanpa banyak tanya lagi Ario pun mengambil coklat berbungus kuning tersebut.
Entah siapa yang menyebarkan cerita tersebut. Beberapa hari kemudian di tempat kerja Miu dan Ario santer beredar kabar kalau mereka berdua mengalami cinta lokasi alias cinlok. Kabar Miu memberi sebatang coklat untuk Ario laris manis bak kacang goreng. Tanpa ada yang tahu kalau sebetulnya coklat tersebut dibeli dengan voucher dan sebagai imbalan karena telah menemani membeli ember.
Mulanya, Miu dan Ario tak ambil pusing dengan gosip tersebut. Akan tetapi, lama kelamaan mereka mulai merasa jengah dan akhirnya saling menjaga jarak satu sama lain.
Miu kini selalu pulang sendiri naik TransJakarta. Jika Ario mengajaknya untuk pulang, ia selalu berdalih pekerjaannya belum rampung dan mempersilakan Ario untuk pulang duluan.
Seminggu sudah mereka seperti itu, Miu mulai merasa ada yang hilang dari hidupnya. Ia pun mencari-cari sampai ke bawah meja kerjanya, kemudian tersadar bahwa yang hilang dari hidupnya bukan sebuah barang, melainkan Ario.
Terasa sekali perbedaan pulang bersama Ario dengan pulang bersama puluhan penumpang dalam sebuah bus TransJakarta. Sesampainya di kostan, Miu selalu merasa pegal-pegal karen berdiri di dalam bus sepanjang perjalanan menuju kostan.
Terlintas dalam pikiran Miu untuk meyapa Ario lewat aplikasi chatting Wacap. Ia mencari kontak bernama Ario dan mulai megetik sesuatu di kolom chat. "Yo, kamu sudah sampai rumah?" tulis Miu.
Cukup lama pesan tersebut tak berbalas, bahkan belum dibaca oleh Ario. Miu memutuskan untuk pulang tanpa mennggu balasan. Dalam perjalanan dalam bis, tiba-tiba handphone Miu yang disimpan dalam ta berdering tanda ada pesan yang masuk. "Aku baru sampai, maaf baru balas tadi mampirdulu ke tempat teman," bunyi pesan tersebut yang ternyata merupakan balasan dari Ario.
Entah mengapa Miu tiba-tiba merasa senang begitu mendapat balasan dari Ario. Akhirnya sepanjang perjalanan Miu dalam bis menghabiskan waktunya dengan chattingan bersama Ario. Banyak yang mereka obrolkan lewat aplikasi chatting Wacap, bahkan lebih banyak dari obrolan mereka selama ini di kehidupan nyata.
Hari demi hari ario dan miu semakin akrab didunia maya. Namun, di dunia nyata hubungan mreka masih belum ada kemajuan. Miu bahkan sudah tidak pernah nebeng pulang lagi bersama Ario dan seketika gosip tentang mereka pun tenggelam sudah.
Ario sekarang jarang membawa motor, ia lebih sering berangkat dan pulang bersama Jodi, tetangga sekaligus rekan kerjanya.
Usut punya usut ternyata Jodi sudah cukup lama memendam perasaan terhadap Miu. ia mengutarakan hal tersebut pada Ario saat sedang makan siang bersama di kantin kantor. Sontak Ario kaget mendengar pengakuan tersebut.
"bantuin gue buat dapetin Miu ya Yo, lo kan deket sama dia," pinta Jodi. Ario tak langsung menjawab, ia melamun sebentar dengan pikiran yang kacau. "Yo Yo hey," tegur jodi sambil menuk pundak Ario. "Eh ya ya apaan tadi sory gue melamun," kata Ario.
"Bantu gue buat bisa jadian sama Miu," ulang Jodi.
"Caranya?" tanya Ario. Kemudian Jodi meminta nomor kontak Miu dengan terpakss, Ario memberikan nomor handphone Miu pada Jodi.


