Pages

Sabtu, 01 Juli 2017

Satu hari bersama kuli panggul terminal


Kemarin dapat tugas liputan arus balik di Terminal Kampung Rambutan. Begitu sampai dan minta data eh ternyata datanya baru dihitung sekitar pukul 2 siang. Bingung deh mau ngapaian. Iseng-iseng nongkrong di tempat kedatangan bis nyari yang menarik. Dan ketemu lah sama para kuli panggul resmi yang berseragam.

Awalnya cuma ngeliatin aja, dari pertama bus datang mereka lari kemudian menawarkan jasa, dia manggul aku buntutin sampai dibayar sama penumpangnya.

Setiap bus dari luar kota yang tiba di Terminal Kampung Rambutan merupakan hal yang menggembirakan bagi Sahid dan rekan-rekannya.


Sahid merupakan salah satu dari sekian banyak kuli panggul resmi yang terdaftar dan terdata di Kantor Dinas Perhubungan Terminal Bus AKAP Kampung Rambutan. 


Untuk membedakannya dengan kuli panggul tidak resmi, mereka diberi seragam berwarna orange dengan nomor dan nama mereka yang tertulis di bagian depan.


Berkali-kali petugas mengingatkan penumpang untuk menggunakan jasa panggul hanya dari mereka yang menggunaan seragam.


"Penumpang yang ingin menggunakan jasa panggul ada petugas yang berseragam orange," begitu suara pengumuman yang dikeluarkan melalui pengeras suara.


Ketika bus tiba dan berhenti di area parkir antar-jemput, Sahid dan rekan-rekannya langsung memburi bus tersebut.


Untuk lebih menarik minat penumpang, mereka menawarkan jasa menggunakan bahasa daeras asal bis tersebut.


Misalnya, ketika bus yang tiba berasal dari Tasikmalaya atau Garut, mereka menyapa dan menawarkan jasa dengan menggunakan bahasa sunda.


"Bade ka arah mana (mau ke arah mana) bu?," kata mereka.


Sahid mengungkapkan, selama musim mudik dan arus balik lebaran ini merupakan berkah tersendiri bagi para kuli panggul.


Akan tetapi, pendapatan saat arus balik tidak sebanyak yang mereka raup saat arus mudik.


"Kalau mudik lumayan kan duitnya masih pada banyak belum kepake jadi ngasihnya (bayaranya) gede-gede," kata Sahid, di sela waktunya menunggu bus yang tiba di Terminal Kampung Rambutan, Jumat (30/6).


Sementara untuk arus balik, Sahid mengatakan bahwa penumpang cenderung memberi upah yang sedikit.


"Mungkin karena uangnya sudah mulai menipis habis dipakai lebaran di kampung," ujarnya.


Sahid dan rekan kuli panggul lainnya memang tidak mematok tarif khusus. Mereka menerima upah seikhlasnya dari penumpang yang menggunakan jasa mereka.


"Ada yang ngasih Rp 10.000, Rp 20.000 Rp 30.000. Paling besar ngasib Rp 50.000. Yang ngasih goceng (Rp 5.000) juga ada.

," ungkapnya.

JADI TOLONG YAH BUAT YANG MEMAKAI JASA KULI PANGGUL BAYARLAH DENGAN HARGA YANG SETIMPAL DAN PAKAI HATI JANGAN SAMPAI CUMA BAYAR GOCENG !!!


Di hari-hari biasa, Sahid mengaku pendapatannya hanya berkisar Rp 50.000 - Rp 100.000 per hari. Sementara musim mudik lebaran meningkat dua kali lipat berkisar antara Rp 150.000 hingga Rp 200.000.


"Yang paling banyak dapat Rp 250.000 pas mudik," pungkasnya.

SEMOGA SELALU SEHAT YA PAK DAN SEMUA REKAN-REKAN BAPAK, SEMOGA REZEKINYA LANCAR. AMIN






Read more...