Berhubung banyak yang nanya "gimana ceritanya kok bisa jadi reporter?" Jadi mari kita ceritakan sedikit ceritanya, siapa tau bisa jadi motivasi.
Hari itu, minggu 02 Oktober 2016 sekitar abis isya lagi mager banget gak ada kerjaan cuma rebahan aja di kasur sambil baca-baca berita di internet (emang udah hobi baca berita dari dulu, sih) lalu gak sengaja nemu info lowongan kerja yang diposting oleh merdeka[dot]com.
Wow jadi reporter ! Mimpi aku banget itu jadi reporter, karena dalam pikiran aku kerjaannya tuh enak bisa jalan-jalan kesana kemari, bisa masuk ke tempat-tempat yang belum tentu bisa (boleh) dikunjungi masyarakat pada umumnya, bisa ketemu orang-orang penting (waktu itu yang ada dalam pikiranku adalah ketemu para pemain bola, hehe ) ya pokoknya yang enak-enaknya ajalah yang terbersit dalam pikiran saat itu.
Kemudian dengan modal nekat dan sedikit keisengan, dikirim aja itu lamaran via e-mail. Gak terlalu besar harapan untuk keterima, jangan mikirin diterima mikirin dipanggil buat test aja gak kepikiran orang gak punya dasar dan basic ke-jurnalis-an sedikitpun. Bayangin aja SMK jurusan Tekhnik Komputer dan Jaringan lalu kuliah jurusan Pendidikan Matematika. Cuma modal cuma-cuma aja iseng ngirim lamaran lewat e-mail dan basic hobi 'nulis' dan hobi 'banyak ngomong alias cerewet kalau kata orang' wussss terkirimlah lamaran yang dipenuhi ke-pesimis-an itu.
Besoknya, senin 03 Oktober pukul 13.22 ketika lagi mau nyalain TV hendak nonton Thapki di salah satu stasiun TV, tiba-tiba ada telfon masuk dari kode area Jakarta (posisi saat itu masih di Tasik) diangkatlah telfon itu dengan sekuat tenaga (becanda, hapenya gak berat kok hehe) ternyata itu telfon dari kantor redaksi yang mengatakan kalo besok aku berhak ikut tes di Jl. Tebet Barat IV No. 3 Jakarta Selatan.
Awalnya sempat gak percaya dan gak yakin ini beneran dipanggil nih? Apa aku masih belum bangun alias mimpi di hari senin yang cerah itu (maklumlah namanya juga pengangguran, bisa tidur kapan saja xixi).
Kemudian tanpa pikir panjang lagi diambilah keputusan untuk On the way Jakarta dengan pikiran gak apa-apalah sekalian ngelamar ke perusahaan-perusahaan lain disana karena jadi reporter gak mungkin keterima.
Singkat cerita, tibalah di kota Jakarta sekitar pukul 10 malam.
Lanjut.....
Besok siangnya jam 11.00 WIB nih ceritanya udah sampai lah di kantor redaksi, duduk manis di meeting room bareng para kandidat lain nunggu tes dimulai.
Sepik-sepik kita-kita sesama para kandidat saling kenalan dan ngobrol. Ternyata mereka semua lulusan jurnalis, disitu aku langsung lemes rasanya pengen pulang ajalah kabur kalo gak inget Umi dan Ponakan yang udah bela-belain nganter ampe muter-muter nyari alamat kantor mah aku mau pulang aja pura-pura tipes kambuh (maklum waktu itu baru beberapa hari pasca sembuh dari tipes)
Untung saja akal sehat yang berhasil menang. Mari kita ikuti saja semua rangkaian test ini, itung-itung nambah pengalaman aja.
Ternyata soal-soal testnya WOW banget. 75 nomor soal-soal politik dan berita-berita terkini. Untung aja sering nonton dan baca berita jadi dikit-dikit ya taulah. Sisanya googling dengan kuota yang saat itu tinggal 49 Mb lagi dan batre HP yang udah mau habis.
Tidak cukup sampai disitu, masih ada tugas lainnya. Nulis berita dari isi pidato presiden dan membuat berita dari berita luar negri yang berbahasa inggris (koleng bingit men ini kepala tuing-tuing).
Gatau berapa jam dah kita semua ngerjainnya, dan waktu itu kebetulan aku yang beres duluan (ehem). Lalu aku keluar mau istirahat cari makan tadinya tapi ternyata di luar hujan deras sekali. Akhirmya cuma bisa duduk cengo sendirian depan kantor kayak anak hilang (kalo dipikir lagi waktu itu padahal aku nunggu di dalam aja gak usah duduk di luar kayak orang bego
😂 ).
Teng pukul 14.00 WIB masuk lagi mau masuk tahap interview. Gak tanggung-tanggung diinterviewnya sama tiga orang sekaligus, Pak Didi, Pak Feri dan Pak Hery. Telapak tangan sama telapak kaki ampe dingin sedingin es saking groginya haduh mana diserang habis-habisan gara-gara gak punya basic jurnalis tapi pengen jadi reporter. Ya aku jelasin aja kalo aku seneng nulis dan pengen jadi penulis berita (pengen jadi penulis berita sepakbola sih sebenarnya). Sampai-sampai aku menceritakan dulu waktu SD pernah juara mengarang ke-dua se-kecamatan Cipatujah dan juga lomba baca puisi. Sebenernya masih banyak perlombaan lain yang aku menangkan tapi gak aku sebutkan karena takut dikira sombong (cieeeee).
Lalu mereka bertanya apa aku punya blog, kebetulah aku punya dan dulu suka iseng nulis di blog tapi isinya kebanyakan curhatan galau sih haha. yaudalah dikasih aja alamat blognya shakuyaa[dot]blogspot[dot]com
Akhirnya setelah mereka menceritakan suka duka jadi reporter yang lebih banyak dukanya daripada sukanya, aku justru malah semakin ingin jadi reporter.
Kemudian pak Hery waktu itu ngasih tantangan buat bikin liputan berita penggusuran di Bukit Duri yang waktu itu lagi ngehits. Maksimal hari jumat beritanya udah harus masuk ke e-mail beliau.
besoknya, tanpa menunda-nunda lagi aku berangkat ke Bukit Duri sendirian. Bayangin aja baru dua hari di Jakarta, gak tau jalan gak tau arah udah harus keluyuran nyari alamat dan yes akhirnya ketemu juga itu lokasi penggusuran tanpa nyasar. Alhamdulillah.
setelah tiba di lokasi, tiba-tiba langsung 'ngahuleung tarik' alias mikir keras di hadapan reruntuhan puing bangunan. apa yang harus aku beritakan? berita soal penggusuran pasti udah basi dan udah banyak diberitakan.
tiba-tiba ada seorang kakek tua melintas sambil mendorong gerobak tuanya yang penuh dengan besi, kemudian beliau berhenti dan duduk di bawah pohon yang rindang untuk berisitirahat. Dengan naluri kekepoan wartawan yang sudah mulai tumbuh di jiwa, aku menghampiri kakek itu. Lalu setelah mengobrol sebentar kemudian aku mendapatkan inspirasi untuk membuat berita tentang para pencari rejeki di bekas lokasi penggusuran.
seperti ini hasilnya:
.....
SEBONGKAH CERITA DARI RERUNTUHAN BUKIT DURI
Namanya pak Dasta, usianya 63 tahun sehari – harinya dia bekerja sebagai kuli bangunan. Kini, usai tempat tinggalnya di RT 12 RW 10 kelurahan Bukit Duri dirobohkan setiap harinya dia selalu datang ke lokasi bekas penggusuran untuk mencari batu bata diantara reruntuhan bangunan. “Ya lumayan walaupun harganya tidak seberapa buat bekal sehari-hari karena saya sepeser pun belum mendapatkan ganti rugi” kata bapak satu anak ini.
Batu bata yang dia jual harganya Rp. 250 per biji. Pak Dasta dengan sisa-sisa kekuatan di usianya yang tak lagi muda itu mengaku bisa mengumpulkan 100 sampai 200 biji batu bata setiap harinya. “Biasanya ada yang sengaja datang kesini beli batu bata ada juga yang minta dianterin nanti harganya ditambah ongkos jalan” ujarnya sambil membereskan batu bata hasil pencariannya hari itu.
Disinggung tentang bagaimana perasaannya setelah menjadi korban penggusuran, dia hanya bisa berkata “Saya sudah tinggal disini sejak tahun 2006, ya gimana lagi ikhlas gak ikhlas semuanya sudah terjadi, yang penting ke depannya Jakarta bisa benar-benar terbebas dari banjir sehingga pengorbanan kami semua warga Bukit Duri ini tidak sia-sia”.
Kini pak Dasta tinggal di sebuah rumah kontrakan di daerah Poncol, dia mengontrak bersama dua keluarga lainnya agar biayanya lebih murah sambil menunggu kejelasan nasib uang ganti rugi dan mengaku tidak tertarik untuk pindah ke Rusun Rawa Bebek tempat relokasi warga Bukit Duri.
Selain Pak Dasta, ada juga warga pribumi yang tidak menjadi korban penggusuran karena lokasi rumahnya tidak berada di sekitar bantaran kali Ciliwung yang kini mengais rejeki di lokasi penggusuran tersebut. Pak Dadang (37) mengaku telah berhasil mengumpulkan sekitar 500 Kg besi dari bekas bangunan-bangunan yang diruntuhkan. “Rame disini yang nyari besi pada rebutan, sekarang udah hampir habis saya sama tujuh orang teman saya cuma kebagian 5 kuintal dijual ke pengepul orang Madura” ungkapnya. Harga besi yang mereka jual dihargai Rp. 2.200 per Kg nya “harganya murah karena mereka tau ini dari bekas lokasi penggusuran” kata pak Dadang.
Pak Simah (70) warga Jatinegara kini setiap harinya mendorong gerobak tuanya ke lokasi bantaran kali Ciliwung untuk membeli besi dari warga yang pengumpul besi. “Saya biasa beli besi satu gerobak penuh harganya Rp. 75.000” ujarnya disela-sela waktu istirahatnya sambil duduk di bawah pohon yang rindang.
Tidak hanya batu bata ataupun besi yang mendatangkan rejeki dari lokasi penggusuran ini, para pencari kayu bakar pun kecipratan hoki. Mereka biasanya bisa sampai tiga kali bolak – balik ke lokasi untuk mencari kayu. Kayu dihargai Rp. 25.000 – Rp. 35.000 per gerobaknya.
Kini di lokasi penggusuran Bukit Duri ini setiap harinya kita bisa melihat b
anyak gerobak yang terparkir dan orang-orang yang mencari sisa-sisa yang bisa dijual dari reruntuhan bangunan. Karena dibalik sebuah penderitaan selalu ada hikmah yang bisa kita ambil, meskipun derita warga korban penggusuran sangat besar, dibalik itu ada sebagian orang yang bisa mengais rejeki diantara reruntuhan bangunan yang telah hancur karena dihantam oleh alat berat.
Dan semoga dengan digusurnya warga-warga di sekitar bantaran kali Ciliwung ini bisa benar-benar menjadikan Jakarta bebas dari banjir atau setidaknya bisa meminimalisir banjir yang kerap terjadi, seperti apa yang diharapkan oleh Pak Dasta dan semua warga Jakarta pada umumnya. Terimakasih warga Bukit Duri, semoga kepergian kalian dari tempat yang sudah lama menjadi tempat kalian menjalani hidup bisa membawa Jakarta ke arah yang lebih baik lagi. Derita kalian, derita kami semua juga. Yakinlah, jika kita ikhlas ketika kehilangan sesuatu, maka Tuhan akan menggantinya dengan yang lebih baik lagi. Tetap semangat dan semoga bahagia di tempat yang baru.
.....
Dan meluncurlah laporan berita tersebut ke e-mail pak Hery.
singkat cerita, selasa 11 Oktober ada telfon dari kantor redaksi tapi tidak sempat diangkat karena HP nya disimpan di tas, waktu itu aku lagi di kereta mau ke mamah di Bogor. kemdian ada SMS masuk dan ya itulah akhir dari cerita ini dan awal dari kehidupan baruku.
singkat cerita, selasa 11 Oktober ada telfon dari kantor redaksi tapi tidak sempat diangkat karena HP nya disimpan di tas, waktu itu aku lagi di kereta mau ke mamah di Bogor. kemdian ada SMS masuk dan ya itulah akhir dari cerita ini dan awal dari kehidupan baruku.
intinya, jangan takut untuk bermimpi. bermimpilah setinggi-tingginya karena bermimpi itu gratis gak pake tarif. gantungkanlah cita-citamu setinggi langit, seandainya jatuh pun kita masih berada diantara bintang-bintang. dan pekerjaan yang baik itu memang hobi yang dibayar. Alhamdulilah, hobi jalan-jalan, hobi nulis dan hobi nanya sama hobi ngomong ini sepertinya memang cocok di profesi ini seperti yang banyak teman-teman bilang. semoga pekerjaan ini membawa berkah serta manfaat untuk orang banyak. amin.














0 komentar:
Posting Komentar