Pages

Kamis, 09 Mei 2019

Sangiang, Syurga Yang Disembunyikan Tuhan di Tengah Laut Jawa

Ingin liburan di akhir tahun seperti orang-orang meski cuma punya hari libur 2 hari πŸ˜«πŸ˜« Setelah drama yang cukup panjang akhirnya diputuskan Pulau Sangiangmenjadi destinasi trip akhir tahun kami para warlay (wartawan alay) πŸ˜ŽπŸ˜Ž.




Dengan prinsip dana seadanya, kami mulai membagi tim dan tupoksi masing-masing tim mulai dari mengurus bea perjalanan, penginapan, konsumsi, perbekalan, etc.

Kami organisir dengan cermat mulai dari bea perjalanan hingga pulang, semua kebutuhan saat berlibur per orang menghabiskan Rp XXX.000 per orang sudah termasuk makan (kecuali jajan es kelapa muda selama di pulau dan makan nasi padang di stasiun).

Oke mari lanjut ke hari keberangkatan.


Meetpo kami di stasiun Tanah Abang pukul 05.30 WIB dan berangkat pukul 06.35 dari stasiun Tanah Abang (naik KRL kedua) tujuan Rangkas Bitung (ongkos Rp X.000). Niat awalnya mau naim kereta pertama, tapi ternyata adala salah satu warlay yang telat tiba di stasiun.

Setelah tiba di stasiun Rangkas Bitung setelah perjalanan panjang hampir 2 jam kami langsung nyambung KA Lokal tujuan Rangkasbitung-Merak, turun di Stasiun Kerenceng (ongkos Rp X.000) dengan total lama perjalanan sekitar plus minus 4 jam. Agak rusuh ya gaes stasiun Rangkas ini, keluar masuk sama antri beli tiket jelimet banget. Banyak umat manusia. Hati-hati selalu perhatikan barang bawaan anda !!!



Tiba di stasiun Krenceng para warlay kelaparan ternyata. Akhirnya kita mampir ke rumah makan padang. Lokasinya dekat stasiun begitu keluar ambil arah kiri. Lupa namanya apa. Tapi masakannya enak aku yang ngak suka Padang pun merasa "oh ini enak" . Btw aku makan kikilnya waktu itu dan rasanya masih terbayang sampai sekarang saking enaknya.

Ibunya baik banget. Selain makan kami juga numpang pipis dan berak.

Dari stasiun Krenceng kita menuju pelabuhan naik angkot, sekitar 30 menit sampai. Tarif naik angkot Rp XX.000 per orang. Gila anjir angkotnya penuh banget wkwkwk. Untung perjalanan tidak terlalu lama.

Setelah itu, setiba di pelabuhan kami segera mengadakan pertemuan dengan Pak Solihin. Sang Kapten yang akan menyebrangkan kami.

Kami nyebrang ke pulau menggunakan perahu sederhana selama kurang lebih 1 sampai 1,5 jam (tergantung cuaca). Dihitung-hitung, per orang untuk bea transportasi pulang pergi adalah Rp XX.000 x 2 = Rp XX.000 per orang. Gak terlalu mahal kok.


Nah yang agak lumayan ini nyewa kapal = Rp X.XXX.000. Sebenarnya bisa lebih murah lagi kalau banyakan karena bisa nganter sampai 25 orang. Tapi kami hanya sedikitan.

Btw tarif kapal ini udah termasuk nganter pergi, nganter snorkeling dan ngantar pulang nanti jemput pas kita mau balik πŸ€—πŸ€—.

Selama perjalanan di atas kapal sangat menyenangkan. Penuh canda dan rawa para warlay.

Setibanya kami di kawasan Pulau Sangiang kami disambut pemandangan yang familiar, yaa mirip sungai Amazon yang di film-film macam Anaconda gitu deh, serem tapi indah. Indah tapi serem #ehgimanasih.


Terlihat jelas perbedaan warna air semula biru bening menjadi hijau lembut.


Beberapa menit melewati kawasan Sungai Amazon KW akhirnya tibalah kami di gerbang Pulau Sangiang yeeeee πŸ™†πŸ™†πŸ™†







Penginapannya cukup sederhana. Hanya rumah yang terbuat dari kayu. Kadang berderit kalau kita berjalan dengan jedag jedug.

Disini gak perlu khawatir soal makanan. Warga disana menyediakan jasa memasak. Ada warung sederhana juga. Dan yang mengharukan adalah mereka jualan dengan harga normal, enggak di mark up meski di lokasi wisata yang distribusinya juga sulit karena harus diangkut kapal.

Jumlah toilet dan kamar mandi juga cukup banyak. Dan GRATIS. Jadi gak peru khawatir antri berak.

Hari pertama kami langsung ber vacation. Agenda pertama adalah trekking ke atas bukit. Selama trekking kita akan dipandu oleh satu orang guide lokal. Waktu itu tarifnya Rp 100.000. Orangnya baik dan sabar banget.

Btw, tulung bawa alas kaki yang sesuai. Jangan kayak aing yang malah pake sendal sampe kai akhirnya sakit-sakit. Biadab emang diri ini :((


Di Pulau Sangiang juga terdapat Gua Kelelawar yang bagus dan tersembunyi, cocok deh pokoknya kalo mau dipake syuting sinetron macam Mak Lampir atau Dendam Nyi Pelet πŸ˜†πŸ˜†
Katanya, kalau beruntung (gatau kata yang tepat beruntung atau sial) di tempat tersebut kita bisa melihat salah satu predator laut, Ikan Hiu🐬🐬 πŸ™ˆπŸ™ˆ.



Lanjut perjalanan ke atas bukit. Bisa melihat matahari dan langis yang cantik. Bonus pemandangan gunung Krakatau yang terlihat cantik tapi sadis.

Di atas bukit ini kita juga dapat menikmati segarnya kelapa muda bulat. Dibelah dadakan di depan kita. Bayangkan kesegaran setelah mendaki bukit kemudian tenggorokanmu dilewati cucuran air kelapa muda alami. Uhhhhhhhh.



Kalau diibaratkan manusia, laut disini adalah wanita desa lugu (seperti akyuuuu).
Dipakai buat snorkeling sangat asyik sekali πŸŠπŸŠπŸŠ terumbu karangnya indah sekali, warna warni bahkan ada yang berwarna ungu terang πŸ˜πŸ˜ ikannya juga cantik-cantik, pulkolor kayak hidup manusia segala warna ada menghiasi πŸ˜ŽπŸ˜Ž





Menurut kabar burung, Pulau ini sedang dalam sengketa sebab sejuta potensi wisata yang dimilikinya membuat pulau tersebut menjadi rebutan beberapa pihak. Akhirnya, malah jadi seolah terbengkalai tak terkelola dengan baik πŸ˜ͺπŸ˜ͺ






Kasian warlok (warga lokal) yang kena imbasnya. Mereka tertindas di bumi sendiri :( listrik cuma nyala di malam hari πŸ˜«πŸ˜« karena hanya mengandalkan panel tenaga surya jadi kalau siang hari mereka mengisi energi. Kalau kesini jangan lupa bawa bekal powerbeng dalam keadaan full yang banyak yes πŸ€—πŸ€— Makanya yuk berwisata ke Pulau Sangiang, kita genjot perekonomian warlok disana ☺☺.

Di bukit banyak spot fhoto menarik. Ada kayak sarang burung raksasa. Tapi kami gak sempat kesana.




Yang paling seru adalah pantainya. Berasa jalan-jalan ke pulau pribadi. Airnya bersih banget. Memang banyak sampah tapi bukan sampah anorganik. Sampah alam yang terbawa ombak dan numpuk di pinggiran.

Gila gila gila warna air lautnya cantik banget. Pasir putihnya bersih kayak karpet kalau dilihat dari kejauhan.



HARI KEDUA

bangun di pagi hari aku langsung jalan ke dermaga. Menghirup udara segara dan menikmati hangatnya mentari pagi. Indahnya.


Jadwal kami hari ini adalah snorkeling. Pak Solihin and the company kembali menjemput kami ke lokasi snorkeling lengkap dengan peralatan dan jaket keselamatan.



Gak usah diceritain deh gimana keseruan disana. Waktu snorkeling juga gak dibatasi. Sepuasnya kita. Sampai gumoh.



Keindahan bawah lautnya sungguh amat sangat amazing. Monangis kangen pengen nyelem lagi di sana πŸ˜­πŸ˜­πŸ˜­.

Dan sedihnya itu hari kedua sekaligus hari terkahir kami di Sangiang.

Perjalanan pulang cukup dramatis. Kami pulang di waktu ombak dan arus lagi deras. Sepanjang perjalanan kami berdzikir dan berdoa bersama. Ngeri banget kayak mau kebalik kapalnya :((

Nanti-nanti kalau mau pulang jangan jam segituan dah !!!

Kabar buruknya adalah saat ada insiden tsunami di Banten awal tahun ini, pulau Sangiang kena guys. Di berita bahkan disebutkan ada warganya yang hilang. Jujur aing nangis saat lihat berita itu.


Dan sebagai bentuk kepedulian kami rencananya mau open trip ke Sangiang. Mungkin sekitar bulan Agustus tahun ini dicari yang low season dan cuaca lagi bagus.

Budgetnya gak banyak, under sejuta lah pokoknya. Apalagi kalo banyakan, gak bakalan nyampe Rp 700 ribu. Udah termasuk penginapan dan makan selama di pulau. Makan padang di stasiun bayar sendiri dong !!!

Terbuka buat siapa aja tapi dianjurkan orang yang suka bercanda yaaa hahaha. Karena kami orangnya aneh aneh. Kalo gak ketawa atau ngetawain orang tuh badan jadi gak enak.

0 komentar:

Posting Komentar