Pages

Sabtu, 09 Desember 2017

BAB II : tiga hati

Jarum jam sudah menunjukkan angka 8. Joni masih berkutat dengan setumpuk kertas-kertas berisi laporan yang harus segera ia selesaikan malam itu juga.

suasana kantor sudah semakin sepi, satu per satu karyawan sudah angkat kaki menuju rumahnya masing-masing. 

satu jam kemudian Joni baru bisa merampungkan pekerjaanya. "Akhirnya," gumam Joni. ia pun bersiap menuju parkiran untuk mengambil motor kesayangannya.

Tiba di parkiran ia berpapasan dengan sahabat sekaligus tetangganya yang juga rekan satu perusahaan, Aryo. "Eh Yo lo baru pulang" tanya Joni.

Aryo yang sedang bersama seorang perempuan bertubuh langsing tersebut langsung menoleh. Ia langsung mengenali suara Joni dan menyapanya. 

"Iya nih Jon, biasa menjelang akhir bulan banyak yang harus dikerjain," timpal Aryo.

"Oh kenalin, ini Miu, temen gue di bagian marketing. Kebetulan kostan dia searah kampung kita jadi pulang bareng gue sekalian," Sambung Aryo.

Joni kemudian menyodorkan tanganya dan dismbut oleh Miu. "Joni, sahabat Aryo sejak lahir," kelakar Joni. "Miu," jawab Miu sambil tersenyum manis.

Agak lama Joni menjabat tangan Miu sambil memandang lekat wajahya. "Manis juga nih cewe," ujar Joni dalam hati.

Begitulah awal mula Joni mengenal Miu. Sejak saat itu, Joni sering berkunjung ke ruangan Aryo dengan berbagai macam alasan, padahal niatnya adalah untuk melihat Miu.

Namun, sudah seminggu terakhir ini Joni jarang melihat Miu. Sudah lama juga ia melihat Aryo pulang sendrian.

usut punya usut, Miu sedang ditugaskan kantor untuk bekerja di kantor cabang yang baru dibuka di Kota Malang. Disana, Miu ditugaskan untuk memberi arahan para karyawan baru selama satu bulan penuh,

Pada satu kesempatan, Joni memberanikan diri meminta bantuan Aryo untuk mendeaktkan dia dengan Miu. Joni berharap, sebagai teman dekat Miu, Aryo bisa memberinya beberapa saran agar berhasil mendapatkan hati Miu.

Ada yang luput dari pemikiran Joni, perasaan cinta membuatnya melupakan kemungkinan bahwa Aryo dan Miu bukan sekedar teman biasa.

Nyatanya, saat ini dua sejoli tersebut sedang memupuk benih - benih cinta di hati mereka.

"Miu lagi di Malang. Sinyal HP dia jelek disana," kata Aryo datar.

Joni tak menyerah, ia tetap gigih meminta nomor HP Miu. "Gak apa lah, begitu HP dia kena sinyal pesan gue kan bisa langsung masuk," jawab Joni sambil tersenyum sumringah.

Aryo menatap nanar gelas berisi teh manis di depannya, perlahat ia menyedot minuman tersebut. Dengan hati yang berat ia akhirnya menyodorkan HP nya yang sedang menampilkan kontak Miu ke hadapan Aryo.

Joni yang sedang berharap tentu saja langsung kegirangan. Tanpa pikir panjang ia langsung menyimpan nomor tersebut di telepon genggamnya dengan nama 'Miu Cantiq'.


--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
sudah seminggu lebih Miu berada di Kota Malang. Kota yang terkenal dengan buah apelnya tersebut mampu membuat Miu betah mulai dari lokasi-lokasinya, makanannya, hingga orang-orangnya.

Akan tetapi, ada satu hal yang membuat Miu tidak kerasan tinggal di kota bercuaca dingin tersebut. Ialah susahnya telepon genggamnya mendapat sinyal, sehingga ia jarang berkomunikasi dengn teman-temannya yang ada di Jakarta, termasuk dengan Aryo.

Saat lagi santai di Kantor, Miu biasanya menyempatkan diri untuk menelfon Aryo sekedar basa - basi bertanya apa yang sedang Aryo lakukan. Begitu pun Aryo, mereka antusian saling bertaya satu sama lain jika sudah mengobrol via telepon namun jarang bicara saat saling bertatap mata.

"Yo aku hari Minggu besok pulang," pekik Miu diujung telfon.
"Loh kamu kan masih dua minggu lagi di Malang," ujar Aryo.
"Pak Fery udah ngizinin aku pulang. Lagian anak-anak baru disini udah pada jago-jago kok," timpal Miu.

"Sabtu aku mau jalan-jalan dulu keliling Malang, kamu mau aku bawain apaan?" sambungnya.
"Gak usah pusing-pusing, pilih aja apa yang kamu suka aku pasti ikutan suka kok" jawab Aryo.

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

"Hay Miu, apa kabar ? katanya kamu lag dinas di Malang. take care ya. Ini Joni, dapat nomor kamu dari Aryo," tulis Joni dalam kolom chat Wacap yang diakhri dengan emot pipi bersemu merah.

Sudah lima hari pesan tersebut masih ceklis satu. Tandanya, telepon genggam Miu masih belum mendapat sinyal.

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Minggu pagi Aryo sudah terlihat rapi. Padahal biasanya ia paling anti bangun pagi di hari Minggu.

Seperti yang sduah dijanjikan, hari ini Aryo akan menjemput MIu di Bandara. Pesawat Miu mendarat sekitar pukul 09.00 WIB,artinya Aryo harus berangkat menuju bandara sejak dari pukul 07.00 WIB sebab jarak ke bandara lumayan jauh, belum lagi kemacetan Ibu Kota yang terjadi setiap hari.

Tidak butuh waktu lama, Miu langsung bisa menemukan Aryo di lokasi penjemputan. Ia langsung melangkahkan kaki-kaki panjangnya menghampiri pria berambut klimis dan berkumis tipis tersebut.

"Nih aku bawain kamu keripik-keripik bua, ada keripik apel, keripik nangka, sama keripik baso. Kamu suka baso kan," ujar Miu sambil menyodorkan satu kardus berisi oleh-oleh.

Aryo tidak langsung menerima kardus tersebut, dengan heran ia bertanya "Apaan nih kok banyak banget."

"Gak apa, ambil aja aku masih ada banyak kok. Ini aku bawa juga buat Paulina," timpal Miu.


Paulina adalah sahabat dekat Miu, namun tempat perusahaan mereka bekerja tidak sama. Paulina bekerja di sebuah perusahaan marketing berlokasi di dekat perusahaan tempat Miu bekerja oleh sebab itu mereka sering bertemu saat istirahat dan akhirya saling mengenal juga dengan Aryo.


--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

"Terserah deh ya yang penting aku udah kasih kamu solusi," teriak Paulina kesal.
Malam itu, sahabatnya, Miu menelfon dan curhat padanya. Miu menceritakan bahwa tampaknya ia menyukai teman prianya, Aryo.

"Gue tau gue bisa ngerasain, meski kalian gak jadian kalian udah kayak orang pacaran. Jadian aja, kalau Aryo gak memulai lo aja yang ngomong duluan" begitu ucap Paulina yang sudah sering ia ucapkan pada Miu.

Namun, Paulina merasa kesal karena sarannya tidak pernah didengar oleh Miu. Ia mulai gemas melihat hubungan mereka berdua yang tidak menunjukkan adanya tanda-tanda menuju ke arah yang lebih serius.

Paulina paham, Aryo memiliki perasaan lebih dari teman untuk Miu, namun pria berbadan kurus tersebut tidak akan berani mengutarakan perasaanya tersebut.

"Parah kalian berdua," dengus Paulina sambil membantingkan tubuhnya ke kasur.


bersambung

0 komentar:

Posting Komentar