Pages

Kamis, 21 Februari 2019

Mengunjungi Muchlis di Kumai, Kalimantan Tengah


Serunya Melihat Orang Utan Dari Dekat





Siapa yang tak kenal dengan orang utan ? primata yang hidup di Kalimantan ini bahkan telah mendunia.

Di Indonesia saat ini orang utan dapat dijumpai di Kumai, Kalimantan Tengah. Tepatnya di Taman Nasional Tanjung Puting.
Taman Nasional Tanjung Puting adalah sebuah taman nasional yang terletak di semenanjung barat daya provinsi Kalimantan Tengah.
Tanjung Puting pada awalnya merupakan cagar alam dan suaka margasatwa yang ditetapkan oleh Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1937. Selanjutnya berdasarkan SK Menteri Kehutanan No. 687/Kpts-II/1996 tanggal 25 Oktober 1996, Tanjung Puting ditunjuk sebagai Taman Nasional dengan luas seluruhnya 415.040 ha. Meliputi wilayah Kecamatan Kumai di Kotawaringin Barat dan kecamatan-kecamatan Hanau serta Seruyan Hilir di Kabupaten Seruyan.



Jakarta – Pangkalan Bun

Namun mengunjungi “saudara” alias orang utan di habitatnya tentu tidak mudah dan butuh perjuangan.

Pertama, penerbangan menuju ke Bandara Pangkalan Bun masih terbatas. Masakapai sekelas
Garuda pun hanya memiliki satu kali jadwal penerbangan dalam satu hari. Pada saat punya kesempatan bertemu Bos Garuda alias Pak Ari aku sempat mengadukan hal ini, jawaban dia malah becanda "Ya bagus dong kalau penuh berarti ramai" ya maksud saya ditambah gituloh pak -_-. skip.

Saya bersama dengan rombongan terbang dengan menggunakan maskapai Trigana Air penerbangan sekitar pukul setengah 9 pagi dari Bandara Soekarno Hatta. Perjalanan tidak sampai 2 jam, dan ya disana tidak ada perbedaan waktu dengan Jakarta meski zona waktunya adalah WITA.



Pelabuhan Kumai – Taman Nasional Tanjung Puting

Sebelum sampai ke titik temu dengan orang utan alias kawasan Taman Nasional Tanjung Puting aka Nipple Bay (haha) kita harus terlebih dahulu melalui perjalanan air yaitu melalui Sungai Sekonyer.

Jangan khawatir soal transportasi. Perahu yang mengangkut wisatawan ke lokasi taman nasional Tanjung Putting merupakan perahu klotok wisata khusus yang Sudah bersertifikat. Bahkan perahu tersebut bisa disewa untuk dijadikan penginapan.
Jadi, jika ingin berlibur ke Taman Nasional Tanjung Putting tidak perlu mengeluarkan cost atau biaya untuk penginapan. Cukup sewa perahu saja. Harganya memang tidak murah, tapi jika liburannya bersama dengan banyak teman alias rombongan kan bisa patungan haha.
Fasilitas di perahu terbilang cukup lengkap. Tempat tidur, toilet, dapur hingga tempat nongkrong cukup nyaman untuk bersantai dan berfhoto-fhoto narsis.





Kami berangkat dari pelabuhan Kumai. Lokasinya cukup dekat dari bandara Pangkalan Bun. Estimasi perjalanan membelah sungai Sekonyer ke lokasi taman nasional adalah 1,5 hingga 2 jam.
Begitu kaki menaiki perahu klotok, perjalanan sesunguhnya baru dimulai guys !!!

Ya, perjalanan membelah sungai Sekonyer merupakan salah satu bagian terseru dari rangkaian “perjuangan” bertemu orang utan. Pemandangan sepanjanga jalan sangat menakjubkan, membuat mata sanggup melek terus dan rasanya ingin berfhoto terus haha.

Sungai Sekonyer ini bagaikan sungai Amazon rasa kearifan lokal. Sungai yang tidak begitu lebar namun cukup panjang dengan pemandangan sisi kiri dan kanan berupa hutan yang lebat dengan pepohonan.

Semakin mendekati lokasi orang utan, lebar sungai semakin menyempit. Tumbuhan yang seperti semak belukar air mulai tumbuh menjalar hingga bagian tengah. Laju perahu yang kami tumpangi pun terasa memelan.

Mengapung di atas sungai Sekonyer ini sensasinya berasa sedang syuting film anaconda, agak ngeri juga sih imajinasi saya haha.

Kunjungan kami awal bulan Oktober. Rupanya kami tidak terlalu beruntung Karena hari itu Kumai tengah rawan dilanda hujan. Dalam hati selain berdoa diselamatkan juga berdoa semoga tidak turun hujan ! kan gak lucu sudah jauh-jauh ke Kalteng eh orang utan yang mau ditemuinya malah gak nongol Karena sibuk berteduh, sad L.

Oh ya, jangan lupa selama perjalanan mata harus jeli lihat kiri kanan Karena kalau beruntung kalian bisa melihat orang utan yang “mainnya kejauhan” hehe. Tapi jangan berisik ya, nanti dia kaget terus kabur.

Seperti kami yang beruntung melihat orang utan dewasa berukuran besar, namun Karena terlalu antusian kami tidak sadar mengeluarkan suara berisik membuat orang utan tersebut akhirnya masuk kembali ke hutan menjauh dari tepi sungai.

Singkat cerita, disingkat aja ya Karena kalau gak disingkat takutnya kepanjangan huhu. Tibalah di lokasi taman nasional Nipple Bay !
Gila aura hutan tropis Kalimantan yang dinobatkan sebagai paru-paru dunia langsung terasa guys !

Belum turun dari klotok saja kami sudah disambut oleh paduan suara serangga-serangga hutan. Udara segar bercampur dengan aroma dedaunan kering yang baru saja terkena hujan sungguh menyegarkan.

Selain mata, paru-paru ini seolah mendadak sehat sesehat sehatnya. Polusi-polusi Jakarta berhasil didetoks oleh udara hutan tropis, hmmmmmm.

Eksplor Taman Nasional Tanjung Puting

Ada banyak hal sebetulnya yang bisa dilakukan di sini. Diantaranya adalah trekking menyusuri hutan, menanam pohon hingga melihat proses feeding atau pemberian makanaan kepada orang utan.

Karena waktu kami tidak banyak sebab tidak diagendakan untuk menginap, kami hanya memilih melakukan trekking memasuki hutan dan melihat feeding.

Saya bersama rombongan tiba selepas dzuhur. Sementara jadwal feeding sekitar pukul 3 sore. Masih ada cukup waktu melakukan perjalanan hutan. Lets go !

Sebelum perjalanan dimulai kami beruntung sekali karena bertemu orang utan (lupa namanya) yang sedang kesasar apa gimana dia mendekat ke tempat kami. Udah deh tuh fhoto fhoto cekrek cekrek sampe puas sampe dia akhirnya pergi.



Sial banget anjir di tengah perjalanan kami dihadang oleh hujan yang cukup deras. Perjalanan yang sudah separuh itu terasa sayang untuk ditinggalkan namun terasa jauh juga jika hendak kembali pulang ke titik awal. Akhirnya dengan beberapa pertimbangan rombongan memutuskan untuk kembali dan tidak meneruskan perjalanan ke jantung hutan.

Btw, gaes pelis jangan lupa bawa obat nyamuk ya nyamuknya gede-gede dan nakal-nakal anjir saya gatel banget dicium nyamuk sampe bentol :(

setelah ishoma (tanpa makan) sejenak kami melanjutkan perjalanan berikutnya yaitu melihat proses pemberian makan orang utan. Mengambil rute berlawanan dari perjalanan sebelumnya, kami kembali membelah belantara Kumai.

Melihat Proses Feeding Orang Utan

Selama perjalanan yang diiringi nafas ngos-ngosan, mulut ini tak berhenti menganga karena banyak melihat hal baru yang menakjubkan. Mulai dari bunga dan tumbuhan aneh yang baru pertama kali dijumpai hingga cahaya matahari yang menembus pepohonan membentuk garis-garis cahaya ilahi yang sungguh menakjubkan.

sesaat sebelum tiba di lokasi feeding, kami melihat Muchlis sang ketua geng. Dengan santainya duduk manja di atas pohon dan bergaya seolah dia sudah terbiasa dengan sorotan kamera. Tapi kalau mau motret dilarang keras menggunakan blitz yaa ntar mereka kaget dan takutnya malah balik menyerang.

Tiba di lokasi feeding, ternyata sudah banyak bule yang telah lebih dahulu bersiap menonton orang utan lagi mamam. Ada semacam pagar pembatas yang tidak boleh dilewati oleh pengunjung, Di depan pagar tersebut disediakan kursi panjang berderet sekitar 3 baris. Penonton duduk berbaris rapi udah kayak di ruangan bioskop.


Para petugas menggendong tas berukuran besar berisi pisang dan masuk ke "area" ruang makan. Dengan siulan khas mereka memanggil para orang utang untuk merapat. Dari tempat tersebut kita juga dapat melihat beberapa "rumah" orang utan yang didirikan di puncak pepohonan. Agak mirip rumah marsupilami ituloh kartun yang ekornya panjang, gak bahagia masa kecil kalian kalau gak nonton itu.

Sayang sekali orang utan yang datang saat itu cuma sedikit. Mungkin karena hujan mereka pada mager dan lebih memilih tidur ya secara mau go food juga nga mungkin kan :(

Setelah selesai,kami kembali pulang deh. yaudah sekian dulu kayaknya ya kalau masih ada yang kurang silahkan tanyakan langsung wkwkwk




Apa aku harus jadi orang utan biar dilindungi ? :(
.
.

Ya itulah sepenggal kalimat alay untuk pembukaan.
.

Ini muchlis, ketua geng atau raja diantara 5000 orang utan generasi terakhir (sad banget nulisnya berharap mereka takan pernah punah dari muka bumi ini) di Kalimantan.
.
Muchlis yang disegani ini bahkan membuat orang utan lain enggan nongol karena merasa sungkan, alhasil dia show sendirian bergaya ini itu sambil gelantungan, sesekali menguap dan menggoyangkan kakinya.
.
Mari kita doakan semoga kehidupan Muchlis dan anak buahnya masih panjang 🍌🍌❤❤
😶😶

-Yayu Agustini Rahayu-
❤❤❤❤❤



0 komentar:

Posting Komentar