Pages

Kamis, 21 Februari 2019

Cheesecake Oreo Mango Low Budget Ala Anak Kostan

Cheesecake oreo mango low budget ala anak kostan. Ramah di kantong, lumer di mulut, bikin nagih di perut.




Alat dan bahan :
- wajan untuk merebus
- parutan keju
- toples atau jar (aku pakainya toples plastik bekas sosis son*ce karena gak punya perabotan πŸ˜“ )
- susu dancow bubuk rasa vanilla (jangan sampai ketuker sama yang rasa madu ya) 6 sdm (sesuai selera, boleh lebih tapi gak boleh kurang)
- tepung maizena 4 sdm
- keju balok diparut
- gula 6 sdm (sesuai selera)
- mangga (opsional, bisa dihilangkan, bisa diganti buah lain)
- air 600 ml
-oreo coklat dihancurkan


Cara membuat :
-campurkan susu dancow, gula pasir, keju parut (sisakan sedikit buat toping), tepung maizena yang sudah dilarutkan dan air
- rebus sampai mendidih dan meletup-letup
-angkat, diamkan sebentar sambil diaduk-aduk
- susun dalam wadah.
-masukan ke dalam freezer




Read more...

Mengunjungi Muchlis di Kumai, Kalimantan Tengah


Serunya Melihat Orang Utan Dari Dekat





Siapa yang tak kenal dengan orang utan ? primata yang hidup di Kalimantan ini bahkan telah mendunia.

Di Indonesia saat ini orang utan dapat dijumpai di Kumai, Kalimantan Tengah. Tepatnya di Taman Nasional Tanjung Puting.
Taman Nasional Tanjung Puting adalah sebuah taman nasional yang terletak di semenanjung barat daya provinsi Kalimantan Tengah.
Tanjung Puting pada awalnya merupakan cagar alam dan suaka margasatwa yang ditetapkan oleh Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1937. Selanjutnya berdasarkan SK Menteri Kehutanan No. 687/Kpts-II/1996 tanggal 25 Oktober 1996, Tanjung Puting ditunjuk sebagai Taman Nasional dengan luas seluruhnya 415.040 ha. Meliputi wilayah Kecamatan Kumai di Kotawaringin Barat dan kecamatan-kecamatan Hanau serta Seruyan Hilir di Kabupaten Seruyan.



Jakarta – Pangkalan Bun

Namun mengunjungi “saudara” alias orang utan di habitatnya tentu tidak mudah dan butuh perjuangan.

Pertama, penerbangan menuju ke Bandara Pangkalan Bun masih terbatas. Masakapai sekelas
Garuda pun hanya memiliki satu kali jadwal penerbangan dalam satu hari. Pada saat punya kesempatan bertemu Bos Garuda alias Pak Ari aku sempat mengadukan hal ini, jawaban dia malah becanda "Ya bagus dong kalau penuh berarti ramai" ya maksud saya ditambah gituloh pak -_-. skip.

Saya bersama dengan rombongan terbang dengan menggunakan maskapai Trigana Air penerbangan sekitar pukul setengah 9 pagi dari Bandara Soekarno Hatta. Perjalanan tidak sampai 2 jam, dan ya disana tidak ada perbedaan waktu dengan Jakarta meski zona waktunya adalah WITA.



Pelabuhan Kumai – Taman Nasional Tanjung Puting

Sebelum sampai ke titik temu dengan orang utan alias kawasan Taman Nasional Tanjung Puting aka Nipple Bay (haha) kita harus terlebih dahulu melalui perjalanan air yaitu melalui Sungai Sekonyer.

Jangan khawatir soal transportasi. Perahu yang mengangkut wisatawan ke lokasi taman nasional Tanjung Putting merupakan perahu klotok wisata khusus yang Sudah bersertifikat. Bahkan perahu tersebut bisa disewa untuk dijadikan penginapan.
Jadi, jika ingin berlibur ke Taman Nasional Tanjung Putting tidak perlu mengeluarkan cost atau biaya untuk penginapan. Cukup sewa perahu saja. Harganya memang tidak murah, tapi jika liburannya bersama dengan banyak teman alias rombongan kan bisa patungan haha.
Fasilitas di perahu terbilang cukup lengkap. Tempat tidur, toilet, dapur hingga tempat nongkrong cukup nyaman untuk bersantai dan berfhoto-fhoto narsis.





Kami berangkat dari pelabuhan Kumai. Lokasinya cukup dekat dari bandara Pangkalan Bun. Estimasi perjalanan membelah sungai Sekonyer ke lokasi taman nasional adalah 1,5 hingga 2 jam.
Begitu kaki menaiki perahu klotok, perjalanan sesunguhnya baru dimulai guys !!!

Ya, perjalanan membelah sungai Sekonyer merupakan salah satu bagian terseru dari rangkaian “perjuangan” bertemu orang utan. Pemandangan sepanjanga jalan sangat menakjubkan, membuat mata sanggup melek terus dan rasanya ingin berfhoto terus haha.

Sungai Sekonyer ini bagaikan sungai Amazon rasa kearifan lokal. Sungai yang tidak begitu lebar namun cukup panjang dengan pemandangan sisi kiri dan kanan berupa hutan yang lebat dengan pepohonan.

Semakin mendekati lokasi orang utan, lebar sungai semakin menyempit. Tumbuhan yang seperti semak belukar air mulai tumbuh menjalar hingga bagian tengah. Laju perahu yang kami tumpangi pun terasa memelan.

Mengapung di atas sungai Sekonyer ini sensasinya berasa sedang syuting film anaconda, agak ngeri juga sih imajinasi saya haha.

Kunjungan kami awal bulan Oktober. Rupanya kami tidak terlalu beruntung Karena hari itu Kumai tengah rawan dilanda hujan. Dalam hati selain berdoa diselamatkan juga berdoa semoga tidak turun hujan ! kan gak lucu sudah jauh-jauh ke Kalteng eh orang utan yang mau ditemuinya malah gak nongol Karena sibuk berteduh, sad L.

Oh ya, jangan lupa selama perjalanan mata harus jeli lihat kiri kanan Karena kalau beruntung kalian bisa melihat orang utan yang “mainnya kejauhan” hehe. Tapi jangan berisik ya, nanti dia kaget terus kabur.

Seperti kami yang beruntung melihat orang utan dewasa berukuran besar, namun Karena terlalu antusian kami tidak sadar mengeluarkan suara berisik membuat orang utan tersebut akhirnya masuk kembali ke hutan menjauh dari tepi sungai.

Singkat cerita, disingkat aja ya Karena kalau gak disingkat takutnya kepanjangan huhu. Tibalah di lokasi taman nasional Nipple Bay !
Gila aura hutan tropis Kalimantan yang dinobatkan sebagai paru-paru dunia langsung terasa guys !

Belum turun dari klotok saja kami sudah disambut oleh paduan suara serangga-serangga hutan. Udara segar bercampur dengan aroma dedaunan kering yang baru saja terkena hujan sungguh menyegarkan.

Selain mata, paru-paru ini seolah mendadak sehat sesehat sehatnya. Polusi-polusi Jakarta berhasil didetoks oleh udara hutan tropis, hmmmmmm.

Eksplor Taman Nasional Tanjung Puting

Ada banyak hal sebetulnya yang bisa dilakukan di sini. Diantaranya adalah trekking menyusuri hutan, menanam pohon hingga melihat proses feeding atau pemberian makanaan kepada orang utan.

Karena waktu kami tidak banyak sebab tidak diagendakan untuk menginap, kami hanya memilih melakukan trekking memasuki hutan dan melihat feeding.

Saya bersama rombongan tiba selepas dzuhur. Sementara jadwal feeding sekitar pukul 3 sore. Masih ada cukup waktu melakukan perjalanan hutan. Lets go !

Sebelum perjalanan dimulai kami beruntung sekali karena bertemu orang utan (lupa namanya) yang sedang kesasar apa gimana dia mendekat ke tempat kami. Udah deh tuh fhoto fhoto cekrek cekrek sampe puas sampe dia akhirnya pergi.



Sial banget anjir di tengah perjalanan kami dihadang oleh hujan yang cukup deras. Perjalanan yang sudah separuh itu terasa sayang untuk ditinggalkan namun terasa jauh juga jika hendak kembali pulang ke titik awal. Akhirnya dengan beberapa pertimbangan rombongan memutuskan untuk kembali dan tidak meneruskan perjalanan ke jantung hutan.

Btw, gaes pelis jangan lupa bawa obat nyamuk ya nyamuknya gede-gede dan nakal-nakal anjir saya gatel banget dicium nyamuk sampe bentol :(

setelah ishoma (tanpa makan) sejenak kami melanjutkan perjalanan berikutnya yaitu melihat proses pemberian makan orang utan. Mengambil rute berlawanan dari perjalanan sebelumnya, kami kembali membelah belantara Kumai.

Melihat Proses Feeding Orang Utan

Selama perjalanan yang diiringi nafas ngos-ngosan, mulut ini tak berhenti menganga karena banyak melihat hal baru yang menakjubkan. Mulai dari bunga dan tumbuhan aneh yang baru pertama kali dijumpai hingga cahaya matahari yang menembus pepohonan membentuk garis-garis cahaya ilahi yang sungguh menakjubkan.

sesaat sebelum tiba di lokasi feeding, kami melihat Muchlis sang ketua geng. Dengan santainya duduk manja di atas pohon dan bergaya seolah dia sudah terbiasa dengan sorotan kamera. Tapi kalau mau motret dilarang keras menggunakan blitz yaa ntar mereka kaget dan takutnya malah balik menyerang.

Tiba di lokasi feeding, ternyata sudah banyak bule yang telah lebih dahulu bersiap menonton orang utan lagi mamam. Ada semacam pagar pembatas yang tidak boleh dilewati oleh pengunjung, Di depan pagar tersebut disediakan kursi panjang berderet sekitar 3 baris. Penonton duduk berbaris rapi udah kayak di ruangan bioskop.


Para petugas menggendong tas berukuran besar berisi pisang dan masuk ke "area" ruang makan. Dengan siulan khas mereka memanggil para orang utang untuk merapat. Dari tempat tersebut kita juga dapat melihat beberapa "rumah" orang utan yang didirikan di puncak pepohonan. Agak mirip rumah marsupilami ituloh kartun yang ekornya panjang, gak bahagia masa kecil kalian kalau gak nonton itu.

Sayang sekali orang utan yang datang saat itu cuma sedikit. Mungkin karena hujan mereka pada mager dan lebih memilih tidur ya secara mau go food juga nga mungkin kan :(

Setelah selesai,kami kembali pulang deh. yaudah sekian dulu kayaknya ya kalau masih ada yang kurang silahkan tanyakan langsung wkwkwk




Apa aku harus jadi orang utan biar dilindungi ? :(
.
.

Ya itulah sepenggal kalimat alay untuk pembukaan.
.

Ini muchlis, ketua geng atau raja diantara 5000 orang utan generasi terakhir (sad banget nulisnya berharap mereka takan pernah punah dari muka bumi ini) di Kalimantan.
.
Muchlis yang disegani ini bahkan membuat orang utan lain enggan nongol karena merasa sungkan, alhasil dia show sendirian bergaya ini itu sambil gelantungan, sesekali menguap dan menggoyangkan kakinya.
.
Mari kita doakan semoga kehidupan Muchlis dan anak buahnya masih panjang πŸŒπŸŒ❤❤
😢😢

-Yayu Agustini Rahayu-
❤❤❤❤❤



Read more...

Sabtu, 09 Desember 2017

BAB II : tiga hati

Jarum jam sudah menunjukkan angka 8. Joni masih berkutat dengan setumpuk kertas-kertas berisi laporan yang harus segera ia selesaikan malam itu juga.

suasana kantor sudah semakin sepi, satu per satu karyawan sudah angkat kaki menuju rumahnya masing-masing. 

satu jam kemudian Joni baru bisa merampungkan pekerjaanya. "Akhirnya," gumam Joni. ia pun bersiap menuju parkiran untuk mengambil motor kesayangannya.

Tiba di parkiran ia berpapasan dengan sahabat sekaligus tetangganya yang juga rekan satu perusahaan, Aryo. "Eh Yo lo baru pulang" tanya Joni.

Aryo yang sedang bersama seorang perempuan bertubuh langsing tersebut langsung menoleh. Ia langsung mengenali suara Joni dan menyapanya. 

"Iya nih Jon, biasa menjelang akhir bulan banyak yang harus dikerjain," timpal Aryo.

"Oh kenalin, ini Miu, temen gue di bagian marketing. Kebetulan kostan dia searah kampung kita jadi pulang bareng gue sekalian," Sambung Aryo.

Joni kemudian menyodorkan tanganya dan dismbut oleh Miu. "Joni, sahabat Aryo sejak lahir," kelakar Joni. "Miu," jawab Miu sambil tersenyum manis.

Agak lama Joni menjabat tangan Miu sambil memandang lekat wajahya. "Manis juga nih cewe," ujar Joni dalam hati.

Begitulah awal mula Joni mengenal Miu. Sejak saat itu, Joni sering berkunjung ke ruangan Aryo dengan berbagai macam alasan, padahal niatnya adalah untuk melihat Miu.

Namun, sudah seminggu terakhir ini Joni jarang melihat Miu. Sudah lama juga ia melihat Aryo pulang sendrian.

usut punya usut, Miu sedang ditugaskan kantor untuk bekerja di kantor cabang yang baru dibuka di Kota Malang. Disana, Miu ditugaskan untuk memberi arahan para karyawan baru selama satu bulan penuh,

Pada satu kesempatan, Joni memberanikan diri meminta bantuan Aryo untuk mendeaktkan dia dengan Miu. Joni berharap, sebagai teman dekat Miu, Aryo bisa memberinya beberapa saran agar berhasil mendapatkan hati Miu.

Ada yang luput dari pemikiran Joni, perasaan cinta membuatnya melupakan kemungkinan bahwa Aryo dan Miu bukan sekedar teman biasa.

Nyatanya, saat ini dua sejoli tersebut sedang memupuk benih - benih cinta di hati mereka.

"Miu lagi di Malang. Sinyal HP dia jelek disana," kata Aryo datar.

Joni tak menyerah, ia tetap gigih meminta nomor HP Miu. "Gak apa lah, begitu HP dia kena sinyal pesan gue kan bisa langsung masuk," jawab Joni sambil tersenyum sumringah.

Aryo menatap nanar gelas berisi teh manis di depannya, perlahat ia menyedot minuman tersebut. Dengan hati yang berat ia akhirnya menyodorkan HP nya yang sedang menampilkan kontak Miu ke hadapan Aryo.

Joni yang sedang berharap tentu saja langsung kegirangan. Tanpa pikir panjang ia langsung menyimpan nomor tersebut di telepon genggamnya dengan nama 'Miu Cantiq'.


--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
sudah seminggu lebih Miu berada di Kota Malang. Kota yang terkenal dengan buah apelnya tersebut mampu membuat Miu betah mulai dari lokasi-lokasinya, makanannya, hingga orang-orangnya.

Akan tetapi, ada satu hal yang membuat Miu tidak kerasan tinggal di kota bercuaca dingin tersebut. Ialah susahnya telepon genggamnya mendapat sinyal, sehingga ia jarang berkomunikasi dengn teman-temannya yang ada di Jakarta, termasuk dengan Aryo.

Saat lagi santai di Kantor, Miu biasanya menyempatkan diri untuk menelfon Aryo sekedar basa - basi bertanya apa yang sedang Aryo lakukan. Begitu pun Aryo, mereka antusian saling bertaya satu sama lain jika sudah mengobrol via telepon namun jarang bicara saat saling bertatap mata.

"Yo aku hari Minggu besok pulang," pekik Miu diujung telfon.
"Loh kamu kan masih dua minggu lagi di Malang," ujar Aryo.
"Pak Fery udah ngizinin aku pulang. Lagian anak-anak baru disini udah pada jago-jago kok," timpal Miu.

"Sabtu aku mau jalan-jalan dulu keliling Malang, kamu mau aku bawain apaan?" sambungnya.
"Gak usah pusing-pusing, pilih aja apa yang kamu suka aku pasti ikutan suka kok" jawab Aryo.

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

"Hay Miu, apa kabar ? katanya kamu lag dinas di Malang. take care ya. Ini Joni, dapat nomor kamu dari Aryo," tulis Joni dalam kolom chat Wacap yang diakhri dengan emot pipi bersemu merah.

Sudah lima hari pesan tersebut masih ceklis satu. Tandanya, telepon genggam Miu masih belum mendapat sinyal.

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Minggu pagi Aryo sudah terlihat rapi. Padahal biasanya ia paling anti bangun pagi di hari Minggu.

Seperti yang sduah dijanjikan, hari ini Aryo akan menjemput MIu di Bandara. Pesawat Miu mendarat sekitar pukul 09.00 WIB,artinya Aryo harus berangkat menuju bandara sejak dari pukul 07.00 WIB sebab jarak ke bandara lumayan jauh, belum lagi kemacetan Ibu Kota yang terjadi setiap hari.

Tidak butuh waktu lama, Miu langsung bisa menemukan Aryo di lokasi penjemputan. Ia langsung melangkahkan kaki-kaki panjangnya menghampiri pria berambut klimis dan berkumis tipis tersebut.

"Nih aku bawain kamu keripik-keripik bua, ada keripik apel, keripik nangka, sama keripik baso. Kamu suka baso kan," ujar Miu sambil menyodorkan satu kardus berisi oleh-oleh.

Aryo tidak langsung menerima kardus tersebut, dengan heran ia bertanya "Apaan nih kok banyak banget."

"Gak apa, ambil aja aku masih ada banyak kok. Ini aku bawa juga buat Paulina," timpal Miu.


Paulina adalah sahabat dekat Miu, namun tempat perusahaan mereka bekerja tidak sama. Paulina bekerja di sebuah perusahaan marketing berlokasi di dekat perusahaan tempat Miu bekerja oleh sebab itu mereka sering bertemu saat istirahat dan akhirya saling mengenal juga dengan Aryo.


--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

"Terserah deh ya yang penting aku udah kasih kamu solusi," teriak Paulina kesal.
Malam itu, sahabatnya, Miu menelfon dan curhat padanya. Miu menceritakan bahwa tampaknya ia menyukai teman prianya, Aryo.

"Gue tau gue bisa ngerasain, meski kalian gak jadian kalian udah kayak orang pacaran. Jadian aja, kalau Aryo gak memulai lo aja yang ngomong duluan" begitu ucap Paulina yang sudah sering ia ucapkan pada Miu.

Namun, Paulina merasa kesal karena sarannya tidak pernah didengar oleh Miu. Ia mulai gemas melihat hubungan mereka berdua yang tidak menunjukkan adanya tanda-tanda menuju ke arah yang lebih serius.

Paulina paham, Aryo memiliki perasaan lebih dari teman untuk Miu, namun pria berbadan kurus tersebut tidak akan berani mengutarakan perasaanya tersebut.

"Parah kalian berdua," dengus Paulina sambil membantingkan tubuhnya ke kasur.


bersambung
Read more...

Senin, 27 November 2017

Bab 1 : Ember vs Coklat

"Di depan berhenti dulu ya sebentar," kata Miu sambil menepuk-nepuk pundak Aryo. Aryo pun mengangguk dan menepikan sepeda motor maticnya di depan sebuah toko kelontongan. Meski dalam hati Ario penuh tanya tapi ia tak menanyakan alasan Miu meminta berhenti. Ya begitulah Ario, lebih suka memendam sesuatu dan irit bicara, sementara Miu yang ceria dan bawel, mereka tampak kontras namun selalu bersama.



"Tunggu bentar ya aku mau beli ember dulu, ember di kostanku pecah," ujar Miu sembari langsung meloncat turun dari motor Ario.



Ario dan Miu sudah sembilan bulan terakhir ini berteman. Merek dipertemukan di lokasi tempat mereka bekerja. Sejak saat itu, mereka bagai amplop dan perangko, kemana-mana selalu berdua. Dimanaa ada Ario, disitu ada Miu. Terlebih lagi tempat tinggal mereka searah, mau tidak mau Ario selalu menawarkan tumpangan setiap kali hendak pulang kerja. Dan Miu tentu saja tidak menolak, ketimbang harus naik TransJakarta yang pada saat jam sibuk penuhnya kadang tidak manusiawi, Miu berpikir akan lebih aman dan  nyaman berada dibalik punggung Ario menembus kemacetan Ibu Kota.



Seperti sore ini, seperti biasa Miu pulang diantar Ario. Tak banyak yang mereka obrolkan sepanjang perjalanan, kadang keduanya hanya diam dan Miu asyik sendiri mendengarkan musik dari earphone nya.



beberapa menit kemudian Miu tampak keluar dari toko kelontongan sambil menenteng ember plastik hitam bertuliskan 'Anti Pecah' di tangan kanan dan bungkusan lain di tangan kiri.



melihat Ario yang menunggu di motor sambil tersenyum menatapnya, Miu merasa tak tega telah membuat pria berbadan kurus tersebut menunggunya.



Lalu ia teringat, beberapa waktu lalu ia mempunyai voucher coklat beli satu gratis satu di IndoApril, kebetulan toko tersebut ada di dekatnya.



tanpa pikir panjang, Miu pun berlari memasuki IndoApril dan langsung mengambil dua batang cokelat. Setelah membayar dengan menunjukkan kode voucher, Miu pun kembali menuju Ario yang sedari tadi tidak turun dari motornya sebab ia enggan mengeluarkan biaya parkir. Ya, biaya parkir di Jakarta kadang tak sesuai dengan service yang didapat, bahkan kadang tidak dilayani sama sekali, ketika sudah siap untuk berangkat tukang pakir baru nongol sembari menadahkan tangannya.



"Nih buat kamu," kata Miu sambil menyodorkan sebatang coklat untuk Ario, sebatang lagi tentu ia simpan dalam tasnya untuk cemilan di kostan nanti.



Ario langsung tersentak dan tersadar dari kantuknya. Motornya sempat bergoyang, untung saja tidak jatuh . "Wah ada apa nih tiba-tiba ngasih coklat? hari valentine kan udah lama lewat," tanya Ario.



"Ambil aja nih, selama ini aku gak pernah ngasih kamu apa-apa padahal kamu selalu kasih tumpangan, apalagi sekarang kamu nungguin aku beli ember" jawab Miu sambil menyimpan ember dan belanjaan lainnya di motor Ario. Tanpa banyak tanya lagi Ario pun mengambil coklat berbungus kuning tersebut.



Entah siapa yang menyebarkan cerita tersebut. Beberapa hari kemudian di tempat kerja Miu dan Ario santer beredar kabar kalau mereka berdua mengalami cinta lokasi alias cinlok. Kabar Miu memberi sebatang coklat untuk Ario laris manis bak kacang goreng. Tanpa ada yang tahu kalau sebetulnya coklat tersebut dibeli dengan voucher dan sebagai imbalan karena telah menemani membeli ember.



Mulanya, Miu dan Ario tak ambil pusing dengan gosip tersebut. Akan tetapi, lama kelamaan mereka mulai merasa jengah dan akhirnya saling menjaga jarak satu sama lain.



Miu kini selalu pulang sendiri naik TransJakarta. Jika Ario mengajaknya untuk pulang, ia selalu berdalih pekerjaannya belum rampung dan mempersilakan Ario untuk pulang duluan.



Seminggu sudah mereka seperti itu, Miu mulai merasa ada yang hilang dari hidupnya. Ia pun mencari-cari sampai ke bawah meja kerjanya, kemudian tersadar bahwa yang hilang dari hidupnya bukan sebuah barang, melainkan Ario.



Terasa sekali perbedaan pulang bersama Ario dengan pulang bersama puluhan penumpang dalam sebuah bus TransJakarta. Sesampainya di kostan, Miu selalu merasa pegal-pegal karen berdiri di dalam bus sepanjang perjalanan menuju kostan.



Terlintas dalam pikiran Miu untuk meyapa Ario lewat aplikasi chatting Wacap. Ia mencari kontak bernama Ario dan mulai megetik sesuatu di kolom chat. "Yo, kamu sudah sampai rumah?" tulis Miu.




Cukup lama pesan tersebut tak berbalas, bahkan belum dibaca oleh Ario. Miu memutuskan untuk pulang tanpa mennggu balasan. Dalam perjalanan dalam bis, tiba-tiba handphone Miu yang disimpan dalam ta berdering tanda ada pesan yang masuk. "Aku baru sampai, maaf baru balas tadi mampirdulu ke tempat teman," bunyi pesan tersebut yang ternyata merupakan balasan dari Ario.



Entah mengapa Miu tiba-tiba merasa senang begitu mendapat balasan dari Ario. Akhirnya sepanjang perjalanan Miu dalam bis menghabiskan waktunya dengan chattingan bersama Ario. Banyak yang mereka obrolkan lewat aplikasi chatting Wacap, bahkan lebih banyak dari obrolan mereka selama ini di kehidupan nyata.



Hari demi hari ario dan miu semakin akrab didunia maya. Namun, di dunia nyata hubungan mreka masih belum ada kemajuan. Miu bahkan sudah tidak pernah nebeng pulang lagi bersama Ario dan seketika gosip tentang mereka pun tenggelam sudah.



Ario sekarang jarang membawa motor, ia lebih sering berangkat dan pulang bersama Jodi, tetangga sekaligus rekan kerjanya.


Usut punya usut ternyata Jodi sudah cukup lama memendam perasaan terhadap Miu. ia mengutarakan hal tersebut pada Ario saat sedang makan siang bersama di kantin kantor. Sontak Ario kaget mendengar pengakuan tersebut.



"bantuin gue buat dapetin Miu ya Yo, lo kan deket sama dia," pinta Jodi. Ario  tak langsung menjawab, ia melamun sebentar dengan pikiran yang kacau. "Yo Yo hey," tegur jodi sambil menuk pundak Ario. "Eh ya ya apaan tadi sory gue melamun," kata Ario.



"Bantu gue buat bisa jadian sama Miu," ulang Jodi.



"Caranya?" tanya Ario. Kemudian Jodi meminta nomor kontak Miu  dengan terpakss, Ario memberikan nomor handphone Miu pada Jodi.
Read more...

Sabtu, 01 Juli 2017

Satu hari bersama kuli panggul terminal


Kemarin dapat tugas liputan arus balik di Terminal Kampung Rambutan. Begitu sampai dan minta data eh ternyata datanya baru dihitung sekitar pukul 2 siang. Bingung deh mau ngapaian. Iseng-iseng nongkrong di tempat kedatangan bis nyari yang menarik. Dan ketemu lah sama para kuli panggul resmi yang berseragam.

Awalnya cuma ngeliatin aja, dari pertama bus datang mereka lari kemudian menawarkan jasa, dia manggul aku buntutin sampai dibayar sama penumpangnya.

Setiap bus dari luar kota yang tiba di Terminal Kampung Rambutan merupakan hal yang menggembirakan bagi Sahid dan rekan-rekannya.


Sahid merupakan salah satu dari sekian banyak kuli panggul resmi yang terdaftar dan terdata di Kantor Dinas Perhubungan Terminal Bus AKAP Kampung Rambutan. 


Untuk membedakannya dengan kuli panggul tidak resmi, mereka diberi seragam berwarna orange dengan nomor dan nama mereka yang tertulis di bagian depan.


Berkali-kali petugas mengingatkan penumpang untuk menggunakan jasa panggul hanya dari mereka yang menggunaan seragam.


"Penumpang yang ingin menggunakan jasa panggul ada petugas yang berseragam orange," begitu suara pengumuman yang dikeluarkan melalui pengeras suara.


Ketika bus tiba dan berhenti di area parkir antar-jemput, Sahid dan rekan-rekannya langsung memburi bus tersebut.


Untuk lebih menarik minat penumpang, mereka menawarkan jasa menggunakan bahasa daeras asal bis tersebut.


Misalnya, ketika bus yang tiba berasal dari Tasikmalaya atau Garut, mereka menyapa dan menawarkan jasa dengan menggunakan bahasa sunda.


"Bade ka arah mana (mau ke arah mana) bu?," kata mereka.


Sahid mengungkapkan, selama musim mudik dan arus balik lebaran ini merupakan berkah tersendiri bagi para kuli panggul.


Akan tetapi, pendapatan saat arus balik tidak sebanyak yang mereka raup saat arus mudik.


"Kalau mudik lumayan kan duitnya masih pada banyak belum kepake jadi ngasihnya (bayaranya) gede-gede," kata Sahid, di sela waktunya menunggu bus yang tiba di Terminal Kampung Rambutan, Jumat (30/6).


Sementara untuk arus balik, Sahid mengatakan bahwa penumpang cenderung memberi upah yang sedikit.


"Mungkin karena uangnya sudah mulai menipis habis dipakai lebaran di kampung," ujarnya.


Sahid dan rekan kuli panggul lainnya memang tidak mematok tarif khusus. Mereka menerima upah seikhlasnya dari penumpang yang menggunakan jasa mereka.


"Ada yang ngasih Rp 10.000, Rp 20.000 Rp 30.000. Paling besar ngasib Rp 50.000. Yang ngasih goceng (Rp 5.000) juga ada.

," ungkapnya.

JADI TOLONG YAH BUAT YANG MEMAKAI JASA KULI PANGGUL BAYARLAH DENGAN HARGA YANG SETIMPAL DAN PAKAI HATI JANGAN SAMPAI CUMA BAYAR GOCENG !!!


Di hari-hari biasa, Sahid mengaku pendapatannya hanya berkisar Rp 50.000 - Rp 100.000 per hari. Sementara musim mudik lebaran meningkat dua kali lipat berkisar antara Rp 150.000 hingga Rp 200.000.


"Yang paling banyak dapat Rp 250.000 pas mudik," pungkasnya.

SEMOGA SELALU SEHAT YA PAK DAN SEMUA REKAN-REKAN BAPAK, SEMOGA REZEKINYA LANCAR. AMIN






Read more...

Jumat, 30 Juni 2017

The Halal Boys, si kuning yang ena ena

Ini harusnya meriah dan banyak warna. Nasi basmati (nasi dari beras India yang bentuknya panjang dan masih kayak beras meski udah jadi nasi) berwarna orens merona, roti pitta yang kenyal dan mirip mozarella warna putih, toppingnya daging ayam cincang warna kuning menyala, dan irisan selada warna hijau.

Berhubung rasa lapar udah stadium akhir roti dicomot duluan, selada di nyamnyam dan langsung diaduk gak karuan :(( saosnya dikasih tiga jenis, pedas, BBQ sama yang putih itu bukan mayonaise gatau apaan. Okey segitu ajalah reviewnya. Abis makan ini semoga bisa segera dihalalkan Jisoo πŸ˜‚πŸ˜‚ #TheHalalBoys #LatePost
Read more...

Sabtu, 08 April 2017

Review Asal-Asalan Drama Korea Voice

Akhirnya khatam juga nonton drakor Voice, udah beberapa minggu yang lalu sih cuma baru bisa posting sakarang di blog. Nonton drakor yang bergenre thriller detective dan pembunuhan serta yang banyak banget adegan extremnya ini mesti marathon, kalau gak, gak bisa tidur karena penasaran (huhu).

Tentang Voice sendiri, aku pribadi baru kali ini nonton drakor genre detective gini sampe berkali-kali nutup mata karena gak kuat ngilu liat kepala orang diremukin pake bola besi dan adegan lainnya yang bikin ngilu.

Secara garis besar sih, ini seperti drakor detective pada umumnya dimana ada salah satu anggota keluarga (istri atau anak atau ortu) si detective yang dibunuh oleh psikopat gila dan akhirnya dia akan terus memburu psikopat tersebut yang biasanya merupakan orang yang berpengaruh dan punya kuasa (biasanya konglomerat) dan di dalam kepolisiannya pasti si kepala polisi atau jaksanya tuh kena suap sehingga mereka berlaku tidak adil.

Disini, kebetulan istrinya uri detective yang diceritakan meninggal karena dibunuh oleh psikopat gila yang sadis.

Semenjak istrinya meninggal, si tokoh utama (maaf lagi agak ribet nulis nama orang Korea wkwk) berjuang mati-matian untuk mengungkap tabir dibalik kematian anaknya.

Nah, dalam perjalanannya menguak tabir tersebut, banyak kasus-kasus yang menyertai dan ternyata saling berkaitan.

Yang menarik disini, sesuai judulnya, si tokoh utama wanitanya punya kemampuan khusus yakni bisa mendengar suara-suara yang tidak lazim didengan oleh orang lain. Dengan kemampuannya tersebut, ia dan pasukannya tim Golden Time berhasil menangkap semua penjahat yang berasal dari aduan korban lewat panggilan darurat 112.

 Tapi bedanya, di Voice gak ada sedikitpun unsur asmara, jadi selama 16 episode full sport jantung dan menguras otak ikut berpikir gimana caranya biar bisa meringkus si penjahat !!!!

Buat yang belum nonton, disarankan buat nonton dijamin gak akan nyesel deh. Banyak hal baru yang bisa menambah wawasan kita dalam bidang kepolisian di sini.
Read more...

Minggu, 05 Maret 2017

Kereta Pukul 06.14 WIB

Pagi itu, seperti biasa aku melaksanakan rutinitasku sebelum berangkat kerja. Kebetulan tempat kerjaku lumayan jauh dari tempat tinggalku sehingga aku mesti menggunakan mode transportasi kereta. Kereta yang biasa ku tumpangi adalah kereta pagi pukul 06.14 WIB. Pikirku, lebih baik kepagian daripada harus berdesak-desakan naik kereta jam berikutnya yang selalu lebih penuh.

Namun, pagi itu, hujan turun dengan derasnya. Aku sempat bingung harus memaksa untuk berangkat yang artinya akan basah-basahan atau menunggu hingga hujannya agak mereda. Aku tersadar, ada agenda pagi yang harus aku kejar, sehingga aku memutuskan untuk berangkat kerja sambil menerobos hujan menuju stasiun. Dengan menggunakan sendal jepit sambil menenteng tas plastik berisi sepatu, aku pun memantapkan langkahku menerjang hujan. Jalanan tampak lengang pagi itu, mungkin orang-orang masih betah berdiam diri di dalam selimutnya.

Akhirnya, setelah melakukan perjalanan kurang lebih 10 menit, aku tiba di stasiun. Peron tengah menjadi tempat favoritku menunggu kereta, biasanya disana isi gerbongnya selalu kosong. Jarang orang yang rela berjalan jauh dari pintu masuk, sehingga mereka hanya akan memenuhi gerbong ujung dan ujung saja, tidak sampai ke tengah.
Pagi itu, tak terlalu banyak orang di stasiun, namun tempat biasanya aku berdiri sambil nyender nunggu kereta sudah diambil alih oleh orang lain. Sekilas aku memperhatikannya, seorang lelaki berperawakan tinggi dan berambut ikal. Merasa ku perhatikan, dia balas menatap sambil mengangguk dan tersenyum, aku jadi salah tingkah dan menunduk menatap jari-jari kakiku yang hanya beralaskan sendal jepit cap swellew.

Kemudian, kereta pun tiba tepat pukul 06.14 WIB, aku dan pria tersebut memasuki gerbong yang sama. Tak ku duga ternyata ia memilih duduk di sampingku, padahal masih banyak bangku kosong yang tersedia. "Turun dimana?", tanyanya membuka percakapan. "Tebet," jawabku asal sambil menjejalkan earphone ke telingaku tanda bahwa aku sedang tidak ingin melakukan percakapan. Dia pun mengerti dan akhirnya percakapan singkat kami pun tidak ada kelanjutannya.

"Mbak bangun mbak, udah di Cawang nih bentar lagi turun," suara merdu tersebut membuyarkan mimpi indahku. Aku pun terbangun dan langsung bergegas setelah mengucapkan terimakasih. Ia hanya tersenyum dan aku baru sadar ternyata senyumannya manis juga.

Malamnya, saat turun dari kereta dan berjalan menuju arah pintu keluar tiba-tiba ada seseorang yang menepuk pundakku. "Hey, ketemu lagi," ujar suara yang ku kenal. Saat ku tolehkan muka, aku pun melihat pria perebut tempat favoritku nungguin kereta. "Oh hay, baru pulang juga?" Jawabku.

Kemudian kami mengobrol singkat sambil menuju keluar stasiun. Setibanya di depan stasiun, secara tiba-tiba ia mengajak makan. Katanya, ia tahu tempat makan yang enak di dekat stasiun. Seolah tersihir, aku pun menyanggupi ajakannya.

Sambil makan, ia banyak bercerita. Namanya Gusti, dan ternyata setiap hari ia berangkat kerja naik kereta pukul 06.14 WIB karena tempat kerjanya yang jauh, yakni di dekat stasiun Jakarta Kota. Sementara kami berangkat dari stasiun Citayam. Dalam hati aku meradang, ternyata masih ada orang yang jauh lebih menyedihkan harus berangkat pagi buta setiap hari, sementara aku, yang berangkat paginya tidak setiap hari masih sering saja mengeluh. Ya, profesiku sebagai reporter kadang mengharuskan berangkat pagi buta demi mengejar agenda, kadang berangkat pada jam normal seperti yang lainnya.

Aku tak terlalu banyak bicara saat itu, cukup jadi pendengar yang baik saja pikirku karena ku lihat dia tipe orang yang suka bercerita. Selesai makan, aku bilang mau buru-buru pulang karena takut kemaleman, maklum juga kalau jam segitu jalanan menuju rumah yang kebetulan berukuran sempit akan dipenuhi oleh kendaraan sehingga menimbulkan macet.

Ia pun menawarkan diri mengantarku pulang, namun harus mengambil dulu motornya di penitipan motor. Sontak aku menolak, pertama aku tidak mau merepotkan orang yang baru ku kenal, kedua, aku kasian sama tukang ojek akan kehilangan satu pelanggan jika aku pulang bersamanya. "Kalau gitu besok berangkat bareng ya, naik kereta bareng. Subuh aku bangunin kamu biar gak telat bangunnya. Mau gak?" Tawarnya. Aku pun mengangguk tanda setuju.

"Udah nyampe rumah?" Begitu bunyi pesan yang ku terima di aplikasi whatsapp dengan nama kontak Gusti. Tak ku gubris pesan tersebut karena aku masih dalam perjalanan dan terjebak macet. Sesampainya di rumah, langsung ku lempar sepatu dan tas kemudian menuju kamar mandi. Sehabis mandi, aku menyalakan TV menonton berita yang sebetulnya ku anggap basi karena sudah aku ketahui isi beritanya dari siang hari.

Saat sudah merasa jemu, ku matikan TV dan langsung menuju tempat tidur, tak lupa ku ambil HP ku yang sedari tadi ku letakkan di atas meja. Terlihat banyak notifikasi pesan, "ah palingan dari grup, siapa juga yang suka ngirim chat secara pribadi," pikirku.

Tiba-tiba aku teringat sosok Gusti, dan pesannya yang belum sempat aku balas dan terlupakan. Aku lihat ada lima pesan darinya yang seolah khawatir karena aku tak kunjung membalas pesannya. "Maaf tadi lagi di jalan, pulang langsung mandi dan ini baru mau tidur," jawabku. Entah kenapa, aku merasa deg-degan dan berharap dia belum tidur sehingga bisa membalas pesanku. "Ok, syukurlah kalau gitu. Kirain kamu ada yang nyulik. Selamat tidur ya, jangan lupa besok berangkat bareng," ujarnya datar tanpa dibubuhi emoticon satupun. Aku mengerutkan kening membaca pesannya, lalu aku pun tidur sambil mematikan HP, karena sudah kebiasaanku kalau mau tidur HP harus dimatikan.

Paginya, aku terbangun kemudian bersiap-siap berangkat kerja. Begitu ku nyalakan HP, langsung berisik menandakkan ada pesan yang masuk dan semuanya dari Gusti. "Iya sudah bangun kok," balasku.
Sebenarnya aku tak terlalu berharap dengan ucapannya, tapi nyatanya dia sudah berdiri di peron tengah dengan senyum manisnya, dan aku pun menghampirinya.

Sepanjang perjalanan kami membicarakan banyak hal, dari mulai hal yang penting sampai yang tidak penting. Aku jadi semakin nyaman mengobrol dengannya yang selalu menyelipkan canda di setiap obrolannya. Siang hari aku dapat pesan dari Gusti. "Jangan lupa makan ya," ucapnya. "Iya, kamu juga ya," jawabku. Kemudian ia mengirimkan photo makanan dengan  caption "iya ini aku lagi makan nih,". Lalu tanpa sadar aku pun memotret nasi kotak jatah makan siangku dan mengirimkannya pada Gusti.

"Pulang bareng yuk" ajak Gusti. "Aku pulangnya malem nih," jawabku. "Gak apa-apa, aku tungguin ya di stasiun ntar aku turun di Tebet," tawarnya. Malamnya kita pulang bareng, ternyata dia betul-betul menungguku di stasiun Tebet sejak pukul 17.00 WIB dan aku baru bisa pulang pukul 20.00 WIB. Sebetulnya aku merasa bersalah membuatnya menunggu lama, dan akhirnya aku menawarkan untuk mentraktir dia makan, tapi dia menolaknya.
"Gimana kalau sebagai gantinya, kamu nemenin aku jalan-jalan weekend ini?" Tanyanya. Aku pura-pura berpikir dulu sebelum ku iyakan tawarannya.

Begitulah, hari demi hari dia selalu membanjiriku dengan perhatian-perhatian manisnya. Dia juga tak pernah absen menunggu kepulanganku selarut apapun itu. Bahkan, saat aku sakit dan masuk Rumah Sakit pun dia langsung mengambil cuti dari perusahaannya karena ingin menemani dan merawatku. "Pasangan itu harus saling menjaga, kalau kamu sakit aku harus nemenin kamu sampai sembuh," ucapnya yang membuatku kaget. "Pasangan? Pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur?" Jawabku dengan nada bercanda sambil tertawa seperti biasanya. Aku lihat raut mukanya tak berubah, malah semakin serius. Kemudian ia menarik jemari tanganku ke dalam genggamannya. "Aku pengen serius sama kamu," tegasnya dengan mimik muka penuh keseriusan.

Aku hanya bisa terdiam, berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi. Melihatku yang kebingungan ia melepaskan genggamannya dan berkata "gak perlu dijawab sekarang, pikirin aja dulu baik-baik," tukasnya.
Semenjak kejadian itu, setiap hari dia selalu menagih jawaban. Berkali-kali juga aku tegaskan padanya aku tidak mau pacaran, aku lebih nyaman berteman sama dia karena kami belum terlalu lama saling mengenal. Hingga suatu malam, dia hujan-hujanan datang ke rumahku hanya untuk mengantarkan obat batuk. Sebelumnya, aku sempat terbatuk-batuk saat sedang video call dengan dia. Tak kusangka dia langsung datang saat itu juga.
"Aku gak mau kamu sakit lagi," katanya sambil menyodorkan tas plastik berisi sebotol obat.

Entah kenapa, malam itu aku merasa terharu dan merasakan ketulusannya. Sebelum ia pulang aku menarik tangannya dan berkata "aku mau" ucapku. "Mau apa?" Tanyanya sambil tertawa. "Yang jelas dong, mau tidur? Ya udah sana tidur kamu kan kebo si tukang tidur" Lanjutnya sambil terkekeh. "Mau jadi pacar kamu," jawabku sambil tersipu. "Walaupun kita belum terlalu lama kenal, tapi aku nyaman sama kamu," ucapku sambil menunduk malu.
Kemudian ia berbalik dan langsung memelukku sambil berkata "mulai saat ini kamu milikku ya, jangan sakit terus ya," ucapnya.

Ia pun pamit untuk kedua kalinya, entah kenapa ada perasaan tak rela dan tiba-tiba takut kehilangan yang menerpaku. Kuikuti dia sampai menghilang dari pandanganku di belokan gang, sekilas ia sempat menoleh sambil tersenyum tengil penuh kemenangan.

Seperti biasa, pagi hari kami berangkat bareng dan pulang bareng. Sebagai pasangan baru, kami pun selalu memamerkan keromantisan kami di muka umum. Ia bahkan tak akan melepaskan genggaman tangannya yang mengurung jari jemariku hingga aku turun di stasiun tujuanku.

Sore itu, aku mendapat kabar dari Gusti yang menyatakan kalau dia tidak bisa menungguku pulang karena sedang tidak enak badan sehingga mau cepat pulang untuk istirahat. "Hemm, tak bisanya," pikirku. Orang yang selalu memamerkan kesehatannya dan mengejekku si tukang sakit kini mengakui kalau dirinya tak enak badan. "Ya udah, cepat pulang dan jangan lupa minum obat," jawabku. Hingga aku pulang, tak ada satupun pesan dari Gusti, mungkin dia sudah tidur sangkaku. Paginya, ku lihat masih belum ada pesan darinya.

Aku yang tak biasa mengirim pesan duluan terpaksa menurunkan gengsiku dan mengiriminya pesan. "Belum sembuh?" Tanyaku. Namun layar HP ku menandakan bahwa pesanku belum sampai ke HP Gusti. Aku pun terpaksa berangkat sendiri. Di stasiun tempat biasa Gusti berdiri sambil nyengir menunggu kedatanganku yang dia bilang gak pernah memecahkan rekor karena selalu datang lebih telat darinya tak ku lihat kehadirannya. Ada perasaan cemas yang menyelimutiku, apa dia sakit parah sampai-sampai dia tidak bisa mengirim kabar padaku.

Malamnya, di dekat stasiun aku tak sengaja bertemu seseorang yang aku ketahui sebagai temannya Gusti. "Bang, lihat Gusti gak hari ini?" Tanyaku. "Dia lagi sakit, tadi siang juga saya sama yang lain abis jenguk dia. Mbak gak dikasih tahu?" Ujarnya balik bertanya. Sakit apa sih dia, baru sakit sehari doang udah dijengukin teman-temannya, aku aja yang pacarnya belum jenguk dia. Berbagai pertanyaan berseliweran dalam pikiranku. "Kalau gitu yuk saya anterin ke rumahnya," tawarnya memecah lamunanku. Aku menolak dengan halus tawaranya dengan alasan takut mengganggu istirahat Gusti.



Besoknya, aku berangkat agak siang karena penyemangat berangkat pagiku hari itu tidak ada. Tak ku sangka, Gusti sudah berdiri menungguku di tempat biasa. Ia bersandar sambil mengenakan masker berwarna abu-abu dan jaket tebal. "Kamu kok siang banget sih, aku bisa kesiangan nih gara-gara nungguin kamu huhh dasar kebo," omelnya sambil mencubit hidungku. "Aku kangen hidung kamu, baru sehari gak ketemu aja udah kangen," ucapnya sambil tersenyum. Aku diam saja tak menggubris ocehannya, aku masih sebal karena dia telah menghilang dan membuatku khawatir.

"Aku minta maaf ya, aku gak mau bikin kamu khawatir," mohonnya. Aku lihat matanya tampak sayu, lalu ku tarik masker yang menutupi setengah wajahnya. Aku kaget melihat mukanya yang pucat pasi dengan bibir yang tak kalah pucatnya. Aku taruh kedua telapak tanganku di pipi dan dahinya, rasanya panas sekali. "Kamu masih sakit kenapa sudah masuk kerja? Harusnya kamu istitahat biar cepat sembuh!" Bentakku khawatir. Ia hanya tersenyum dan melepaskan tanganku dari wajahnya. "Kalau gak salah, tadi aku udah bilang kalau aku kangen kamu, terutama hidung kamu, itu alasannya aku gak bisa sakit berlama-lama. Aku takut kamu ketiduran di kereta dan nyender ke pundak orang lain," ujarnya sambil cemberut.

Seperti biasa, pulang kerja ia menungguku di stasiun. Ia berdiri sambil menenteng tas plastik yang berisi makanan, aku pun menghampirinya sambil berlari, aku tahu isi tas plastik tersebut pasti makanan kesukaanku. Aku lebih senang lagi karena melihat Gusti yang tidak sepucat tadi pagi. "Kita pulang malem ya, naik kereta yang berikut dan berikutnya aja," katanya. "Kenapa? Aku kan pengen cepet-cepet pulang, aku ngantuk," gerutuku. "Itulah. Aku mau menghabiskan waktu lebih lama sama kamu. Habisnya kamu kalau udah pulang ke rumah pasti langsung tidur, gak mau nemenin aku chatting lebih lama," protesnya. Kemudian, malam itu kami pulang naik kereta terakhir pukul 11 malam lewat. Dia mengaku tak bisa mengantar pulang karena hari itu dia tidak membawa motor ke stasiun.

Sesampainya di rumah aku lihat HP tidak ada pesan yang menanyakan aku sudah sampai apa belum. Aku yang kelewat ngantuk tak memikirkan hal itu, langsung saja tidur dan mematikan HP. Paginya, aku tak melihat Gusti di stasiun. Pesanku pun tak terkirim. Aku menunggu hingga dua jam lamanya di stasiun. Perasaanku mulai tak enak. Kemana dia ? Sakit lagi kah ?. Seharian aku tak tenang, berulang kali melirik HP berharap ada pesan masuk dari Gusti atau setidaknya ada tanda bahwa HP nya aktif, namun pesanku belum terkirim juga.

Besoknya dan besoknya lagi kejadian yang sama berulang. Gusti benar-benar hilang tanpa jejak. Aku merasa bodoh, bahkan rumahnya pun aku tak tahu, harus kemana aku mencarinya? Aku tak tahu kemana mesti menanyakan kabarnya. Temannya yang sempat ku temui pun tak pernah lagi ku lihat di sekitar stasiun.
Kemudian, seminggu setelah kontak terakhirku dengan Gusti aku lihat tanda  bahwa pesanku terkirim. Setiap hari aku memang mengirim pesan, kadang cuma titik doang sekedar untuk mengetahui kalau HP nya aktif.

"Kamu kemana aja?" Tanyaku.
"Ini siapa?" Balasan pesan dari nomor Gusti.
"Loh ini siapa? Gusti nya kemana?" Tanyaku heran.
"Aku calon istrinya Gusti, kami mau nikah bulan depan," jawabnya.
Kemudian langit seakan runtuh menimpaku. Tamat.
Read more...